…..
Seorang lelaki terbangun dari tidurnya dan ia benar-benar terbangun, “Kenapa saya di sini? Ini kamar tidur siapa, rumah siapa?”
Ia berjalan keluar dari kamar itu, matanya masih mencari-cari jawaban pada dinding kamar itu. Beberapa baju bergelantungan, juga celana dan kaos dalam. Semuanya seukuran dengan badannya. Di luar kamar, matanya bertemu dengan dua anak-anak kecil, keduanya memiliki raut mirip dengannya. Kenapa ia mirip denganku? Hatinya bertanya-tanya, karena ia tahu dirinya anak tunggal dan saudara-saudara sepupunya tak diciptakan memiliki raut seperti dirinya. Aku memang limited edition, suatu ketika ia pernah bergurau demikian.
Anak-anak itu sibuk bermain, tak peduli pada lelaki kita yang masih kebingungan. Matanya terus mencari referensi seperti tangan yang begitu panik mencari tautan ketika sedang tenggelam. Nah itu dia, di dinding sana ada foto dirinya. Ya, itulah wajah yang selama ini dikenakannya. Itu adalah saya. Tetapi kenapa ada sosok perempuan “asing” di sampingnya, dan tiga orang anak-anak yang mukanya mirip dengan miliknya. Apakah Tuhan sudah menciptakan replika dari wajahnya, berarti anak-anak kecil itu adalah anak-anakku. Dan perempuan itu adalah….istriku…
Dunia mendadak bergetar, ini pasti mimpi. Ia masih ingat, beberapa saat yang lalu ia masih berjalan dengan pacarnya, dan itu bukan perempuan yang ada di dalam foto itu. Ia memang pernah bermimpi akan menikah dan beranak pinak, tetapi bukan dengan perempuan itu. Sialan, kenapa Tuhan kasih mimpi yang membingungkan. Lelaki itu kembali tidur sembari mengharapkan ia dapat kembali dengan pacarnya, bergandengan tangan, dan saling melempar puisi. Cintaku tak ada yang dapat memisahkan kita...
Matanya kini dipejamkan, memancing kantuk mengatupkan mata ke dunia ”nyata impiannya”. Mata yang semula digunakan untuk menyelidik rupanya sudah kerasan terus melek. Dipejamkan ulang, tetap saja tak bisa mengundang tidur. Suara anak-anak di luar kini terdengar saling bertengkar, mungkin memperebutkan boneka atau kue; suara pedagang jalanan terdengar lalu lalang, memukul mangkok atau wajan penggorengan.
”Ini dunia nyata, rupanya...Kenapa saya ada di sini?”, lelaki itu kembali menemukan pertanyaannya.
Pintu kamar terbuka, seorang perempuan –dan itu adalah perempuan di dalam foto yang ada di samping lelaki kita —masuk dan mendekati tubuh lelaki itu, ”Mas, bangunlah. Hari ini kita harus mengambil rapot pertama si cikal, anak kita!” Dengarlah, perempuan itu menyebutnya dengan panggilan mas, dan ia juga bilang anak kita!
”Ambillah sendiri, saya agak demam dan pusing!” Lelaki itu tidak bohong, ia memang mendadak meriang dan pusing menemukan pertanyaan yang tak bisa dijawabnya. ”Kenapa saya ada di sini?” Apa benar saya sudah menikah dengan perempuan ”asing” itu, dan beranak pinak tiga orang yang juga begitu ”asing”.
”Ayo bangunlah, kamu pasti sedang bermimpi!”
Kisah ini bukan fiksi, bukan juga cuplikan acara Termehek-mehek. Tapi tak usah diselidiki, siapa lelaki pemilik kisah ini. Sebab, bisa jadi lelaki itu adalah kita pada beberapa tahun ke depan.
Marilah kita beralih pada kisah lain, benakku menuntunku demikian. Kisah ini berasal dari Syuhrawardi Asy-Syahid, seorang filsuf cemerlang dari Persia. Ia menulis kisah yang menakutkan, tentang al-ghurbah al-gharbiyyah. Kisah ini dimulai dari pengakuan, ”Saya kini hidup di sebuah sumur yang gelap, sangat pekat sampai tangan sendiri pun tak bisa ditemukan...” Di sumur itu, ia terkerangkeng dalam penjara gelap. Tak ada besi atau borgol, hanya gelap meringkus seluruh dirinya. Di tengah gelap, ia tak bisa melakukan apapun, semuanya jadi tidak ada dan menakutkan.
Kemudian ia menceritakan ritus hidupnya, bahwa pada malam hari ia diberi kekuatan untuk naik keluar dari sumur gelap itu, menaiki menara dan bertemu dengan burung Hudhud. Burung itu menceritakan kabar tentang sesuatu yang ”seperti pernah dikenalinya” dulu. Kadang-kadang burung itu mengabarkan ”panggilan” bahwa tempatmu bukan di sini, bapak dan kakekmu menunggumu, kau harus keluar dari sumur gelap itu. Begitu fajar tiba, ia sudah kembali terlempar di sumur gelap dikerangkeng pekat.
Para penafsir kisah ini menyatakan bahwa ”di dalam sumur gelap, dikerangkeng pekat” adalah kehidupan ini. Kita hidup di dalam gelap pekat. Awalnya kita merasa kaget, karena itu kita menangis saat dilahirkan. Lama kelamaan kita merasa nyaman dan menciptakan tambatan dalam gelap itu. Mata pun semakin terbiasa pada kegelapan dan menemukan aktor lain di dalam sana. Perempuan atau lelaki akan menemukan pasangannya. Bila berjodoh, kawin mawin terjadilah.
Burung Hud-hud adalah kesadaran, adalah ilham. Ia datang sesekali pada saat mata atau indera melemah dan tidak lagi memasok informasi pada akal kita. Ia menceritakan kehidupan yang sebenarnya, ”duniamu bukan di sini, keluarlah dan temukan bapakmu!” Karena kita sering menampik seruan Hud-hud, hidup diteruskan di tempat gelap, kawin mawin dan beranak-pinak.
Kisah Syuhrawardi agak mirip dengan kisah manusia gua Plato. Al-kisah sejumlah orang terpenjara di dalam gua gelap. Tubuh mereka menghadap dinding gua dan tak pernah berbalik kanan melihat arah sebaliknya: sebuah mulut gua yang kecil dan sempit. Dari mulut gua itu sinar matahari masuk ke dalam gua, menerpa dinding dan menciptakan bayang-bayang. Bila ada burung melintas, dinding gua itu menampilkan sesuatu yang hitam-bersayap dan terbang, begitu pun bila ada daun jatuh --semuanya berwarna hitam.
Karena terbiasa menghadap dinding, mereka menganggap semua hal berwarna hitam kecuali tubuh mereka sendiri. Tak ada warna bagi mereka, karena sejak kecil tak pernah dtemukan warna. Kehidupan adalah hitam melulu.
0 komentar:
Poskan Komentar