Terus ada lagi hadits yang….Sudah…sudah…jangan tambah lagi penderitaan ini dengan menengok muka retak ini. Kemusliman kita hanya sebatas kertas. Jangan lagi mengutip satu hadits pun, semuanya akan membuat kita jadi malu dan ketakutan. Apalagi setelah menemukan sebuah buku Charles Kimball yang berjudul “Kala Agama Jadi Bencana” (When Religion Becomes Evil). Pada buku Kimball menuliskan bahwa agama (khususnya Islam) telah menjadi bensin bagi api bencana. Membuat kerusuhan memang insting dasar manusia sebagai binatang yang suka marah, namun dengan agama insting itu menemukan alasan sucinya.
Kenapa Kimball menuduh kemusliman sebagai sumber bencana?
Tapi biarkan sajalah. Kondisi diri sebagai bayang-bayang memang berpotensi menyebabkan kita menjadi apapun. Menjadi bensin atau sekedar alas kakipun, bisa saja. Ini logis terjadi, karena kita memang bertindak tanpa pengetahuan, keterampilan, dan keinginan. Karena itu mari kita cermati bagian-bagian dari buku Kimball. Kita dapat bergerak cepat ke halaman lain yang lebih netral, yaitu halaman 280 saja. Kimball menuliskan bahwa beragama adalah perjalanan ziarah, yaitu
“Mencari dan menemukan petunjuk Tuhan sepanjang jalan. Maka kita pun dapat belajar dari perjalanan orang-orang yang—sepanjang perjalan sejarah—telah menghadapi tantangan yang serupa dan berbeda, juga dari tempat-tempat yang tak dikenal dan yang membahayakan. Kitab suci tidak memberikan peta terperinci tentang berbagai tempat pada abad ke-21. Bagi kita, kitab suci lebih menyerupai suatu peta bumi, yang menunjukkan kepada kita suatu gambar yang besar.”
Peta memang tidak menunjukkan realitas, hanya bayangan yang memberi petunjuk. Realitas selalu lebih ruwet dari gambaran peta itu, maka yang kita butuhkan tidak melulu peta itu, tapi juga tindakan ziarah. Pada paragraf lain, Kimball melanjutkan renungannya, “Lebih dari sekadar peta, kita memerlukan kompas.” Seraya ia merujuk pada buku Stephen Covey, The Seven Habits of Highly Succesful People:
“Kita semakin membutuhkan visi atau tujuan dan kompas (sekumpulan prinsip atau petunjuk) dan kurang membutuhkan peta jalan. Kita sering tidak mengetahui akan seperti apa jalan di depan kita atau jalan mana yang perlu kita ketahui… Namun kompas batin kita akan selalu memberikan petunjuk kepada kita”.
Covey menegaskan dunia kehidupan sebagai penuh kejutan, sehingga kita “sering tidak mengetahui akan seperti apa jalan di depan kita atau jalan mana yang perlu kita ketahui”. Di dalam kondisi serba mengejutkan, serba berubah, serba membutuhkan perhatian yang terus-menerus baru, peta memang kurang dibutuhkan. Lebih tepatnya, di samping peta kita mesti menyertakan “kompas batin”, sehingga peta itu dapat diterapkan bagi perjalanan di tengah kehidupan.
Kitab suci hanyalah peta yang nilainya tergantung pada bagaimana kita menafsirkannya. Di samping itu peta terlalu bernilai umum yang karenanya susah untuk dijadikan petunjuk bagi perjalanan yang selalu berubah itu. Karenanya kompas diperlukan. Kompas itu bagi Covey adalah kejujuran, integritas, keterusterangan, nasib manusia, pengabdian, pertumbuhan, kesadaran, kedewasaan, dan keberanian. Sementara Kimball mengajukan perasan prinsip utama yang dirujukkan pada jantung agama, yaitu iman, harapan, dan cinta. Bagi Kimball, ketiga hal ini lebih dalam ketimbang hal-hal yang diajukan Covey.
“Iman adalah suatu orientasi kepribadian, kepada diri, tetangga, jagat raya…suatu kapasitas untuk hidup lebih dari sekadar pada tingkat duniawi, untuk melihat, merasakan, dan bertindak dalam konteks dimensi “yang melampaui”. Ia ditimbulkan dan dipelihara oleh tradisi agama, dalam beberapa kasus dan pada derajat tertentu, oleh doktrinnya; namun iman adalah sifat seseorang, bukan kualitas suatu system…Jadi iman adalah sifat kehidupan manusia. Ia paling sering berbentuk kedamaian batin, dorongan, kesetiaan, dan pengabdian; kepercayaan diri dan kegembiraan diam-diam yang memungkinkan seseorang merasa betah di jagat raya ini dan memungkinkan seseorang menemukan makna di dunia dan dalam kehidupannya sendiri, suatu makna yang mendasar dan tertinggi, serta stabil, terlepas dari apa pun yang mungkin terjadi pada dirinya di tingkat peristiwa duniawi” (Wilfred Cantwell Smith, Fiath and Belief).
HARAPAN menjaga manusia ketika situasi yang tengah dihadapinya kurang ideal. Harapan adalah pandangan ke depan, bahkan ketika berbagai kendala tampak tak tertahankan, tradisi-tradisi agama mengarahkan umat kepada masa depan yang lebih menjanjikan….Harapan mengajak kita berusaha mencapai masa depan yang lebih baik. (Kimball, hal. 283)
Mari kita bayangkan bila kita memiliki kompas ruhani: iman, cinta dan harapan. Pada saat melaksanakan perintah agama sebagaimana tergambar pada kitab suci, tentu ada banyak hal yang “mengganggu”. Misalnya menemukan perbedaan yang mencolok dari cara orang lain melakukan ibadah, saat itu kita merasa heran dan kadang-kadang langsung menyalahkan si orang beda itu. Kita menilai mereka sebagai “menyimpang” dan mencerca atau menghujat. Semua ini dilakukan atas dasar “biasanya tidak seperti itu, kok orang itu melakukan hal yang berbeda sih?”
Apakah penilaian ini dilakukan atas dasar iman? Orang beriman tak diizinkan untuk berburuk sangka, untuk merasa diri benar. Merasa benar dapat berarti merasa memiliki kebenaran, padahal kebenaran selalu milik Allah, karenanya hanya kepada Dia seluruh pujian dapat diberikan.
Seorang guru di Syahadatain pernah berkata, “Rasulullah berbicara, tapi dia tidak membicarakan”. Rasulullah berbicara tentang suatu hal, namun isi pembicaraannya bukan dari dirinya. Pembicaraan Rasulullah selalu merujuk pada prinsip-prinsip Kitab Suci al-Quran, sehingga dapat dikatakan bahwa ia tidak sedang berbicara, ia hanya menyampaikan prinsip yang diyakininya. Pada saat yang lain, guru di Syahadatain berkata, “jangan pernah meludah, bicaralah!”. Aih, rupanya ada banyak pembicaraan kita yang sama seperti meludah. Dan pada saat itu pembicaraan kita tidak atas dasar iman. Konsekuensinya, suatu pembicaraan yang tidak didasari iman tidak akan memberikan harapan kepada orang lain, juga cinta. Harapan hanya dapat diberikan ketika kita bertindak atas dasar iman kepada Tuhan, bukan karena kondisi dan keinginan kita. Dalam diri Tuhan yang Maha Pemurah dan Penyayang semua orang memiliki harapan untuk menjadi baik dan lebih baik lagi, di sisi-Nya perbedaan adalah rahmat. Sedang dalam pandangan kita, perbedaan adalah penyimpangan.
Kalau begitu kenapa kita lupa bertindak atas dasar kompas ruhani? Atau apakah kita memiliki kompas RUHANI itu?
Jawabnya, kita telah terlalu lama bertindak di atas kebiasaan yang salah. Kita terjebak dalam “Karakter Kekitaan”, karakter orang banyak. Karena banyak orang lain berlaku begitu, maka kita pun begitu. Karena setiap hari banyak orang melakukan perbuatan x, maka kita menganggap bahwa perbuatan x itu benar.
Bertindak atas dasar iman bukan didasarkan oleh “karakter kekitaan”. Iman adalah prinsip yang kadang-kadang bertentangan dengan “karakter kekitaan”. Cara beragama kita, telah lama dininabobokan oleh sejumlah kebiasaan yang sesuai dengan keinginan kita. Padahal yang dibutuhkan adalah kebiasaan yang sesuai dengan iman, islam dan ihsan. Bertindak berdasar iman, islam, dan ihsan berarti tidak melulu bertindak berdasarkan petunjuk aturan baku, melainkan melalui pertimbangan diri sendiri yang telah beriman, berislam, dan berihsan. Atau bertindak berdasar kompas ruhani.
Kompas Ruhani
Charles Kimball telah menganggap Kitab Suci sebagai peta, “suatu peta bumi, yang menunjukkan kepada kita suatu gambar yang besar”. Terhadap peta yang menampilkan gambaran yang terlalu luas, dibutuhkan penerjemahan ke dalam bentuk-bentuk yang lebih sempit, berkonteks dengan kehidupan saat ini. Di sinilah fungsi strategis dari ulama. Lalu apa itu peta? Kenapa peta sama dengan kitab suci?
Peta adalah sejumlah nilai, atau gambaran dari rute perjalanan yang akan dilalui oleh kita dalam melakukan perjalanan. Beberapa kisah orang Suci (nabi, rasul dan shalihin) dalam al-Quran menggambarkan nilai dan gambaran perjalanan kehidupan manusia. Ada Firaun yang sombong berhadapan dengan Nabi Musa yang tegas, lalu Firaun digambarkan mengalami akhir yang mengenaskan. Kisah ini adalah peta yang berisi nilai bahwa kesombongan akan mengantarkan pelakunya pada kehancuran. Melalui kisah ini, kita dapat mengambil hikmah pada diri sendiri “jangan sombong, nanti seperti Firaun”.
Suatu nilai, apalagi yang merujuk pada Kitab Suci, bisa jadi universal (berlaku kapan saja dan di mana saja). Namun dalam suatu kisah tentang nilai tidak dikemukakan di mana dan kapan kita menggunakannya. Cerita atau uraian dalam kitab suci itu tak pernah mengusulkan dirinya untuk dipakai pada kondisi tertentu, kitalah yang pernah membacanya, teringat, lalu memutuskan bahwa nilai a dapat diterapkan pada kondisi ini. Peran kita sebagai subyek penentu mana nilai yang digunakan dan mana nilai yang ditunda sedemikian besar. Apalagi dalam sebuah kitab suci terdapat kumpulan nilai yang cukup banyak. Keberadaan nilai yang cukup banyak ini tidak dapat dipergunakan semuanya secara serentak, selalu ada prioritas. Rasulullah digambarkan ruhama (penuh kasih sayang) terhadap sesamanya; namun asyida’ (tegas) terhadap kafir. Ini berarti ada semacam strategi pemilihan dan penggunaan nilai berdasar kebutuhan dan konteks yang dihadapi subyek.
Nah, proses pemilihan nilai yang satu ketimbang nilai-nilai yang lain tidak dapat dilakukan secara sembarang. Persis seperti proses penetapan bahwa gunung yang ada di depan matalah yang sesuai dengan gambar dalam peta, tidak dapat dilakukan secara sembarang. Dibutuhkan bantuan kompas yang menunjukkan arah mata angin yang sesuai dengan kenyataan. Lalu dengan arah mata angin yang ditunjukkan kompas itu, kita dapat menentukan keabsahan peta berdasarkan wilayah yang nyata.
Simpulnya, ketika berhadapan dengan kenyataan kita tak bisa menebak peta; kita membutuhkan kompas. Begitupun dalam memilih nilai-nilai yang akan diterapkan dalam kehidupan. Kenapa nilai ini diaplikasikan, sementara nilai yang lain ditinggalkan, tidak bisa dihasilkan hanya melalui pemikiran sendiri. Keputusan memilih nilai tertentu membutuhkan sejenis Kompas yang kapan pun di manapun menunjuk arah utara yang pasti.
Kompas itu dalam kehidupan kita adalah prinsip. Prinsip adalah pandangan bagi perilaku manusia yang telah terbukti dan bertahan. Prinsip-prinsip tertentu mengatur efektivitas manusia. Prinsip-prinsip ini bagi Covey meliputi keadilan, kebaikan, martabat, kedermawanan, integritas, kejujuran, kualitas, pelayanan, dan kesabaran. “Saya tak yakin bahwa ada orang yang dengan serius menganggap ketidakadilan, tipu daya, kedangkalan, ketakbergunaan, mediokritas, atau degradasi sebagai suatu landasan yang kuat bagi kebahagiaan dan keberhasilan yang langgeng”.
Nilai adalah peta, prinsip adalah wilayah. Peta bukanlah wilayah, peta hanyalah gambar atau wakil dari wilayah. Karena itu penggunaan peta tidak boleh tidak mensyaratkan adanya penggunaan kompas. Semakin serasi peta kita dengan kompas ( dengan prinsip-prinsip yang benar, dengan kenyataan wilayahnya, dengan hal-hal seperti apa adanya) semakin akurat dan berguna peta itu
Kompas Lebih Dibutuhkan Ketimbang Peta
Mengapa Kompas lebih dibutuhkan ketimbang peta? Ada beberapa alasan yang dapat dikemukakan:
- Kompas mengarahkan orang pada koordinat dan menunjuukkan arah bahkan di hutan, padang pasir, laut dan di daerah terbuka tanpa penghuni.
- Sewaktu wilayah berubah peta menjadi usang; dalam masa perubahan yang cepat, suatu peta mungkinsudah tidak akurat .
- Peta yang tidak akurat merupakan sumber frustasi besar bagi orang yang berusaha menemukan jalan atau mengarungi wilayah
- Untuk tiba di manapun dengan cepat, kita membutuhkan proses yang baik dan alur jalan bebas hambatan, dan untuk menemukan jalan bebas hambatan di belantara kita butuh sebuah kompas.
- Peta memberikan gambaran, sedangkan kompas lebih memberikan visi dan arah.
Pada Kompas terlihat keajegan dan kemampuannya dalam menunjuk pada wilayah sebagai mana adanya. Bila pada kenyataannya menunjuk utara, maka Kompas akan menunjuk dengan benar arah itu. Sementara, pada peta sebenarnya terdapat simbol U untuk utara, namun sama sekali tidak menunjukkan kenyataan yang sebenarnya. Dalam kehidupan nyata, kompas itu adalah prinsip yang tak berubah dan dapat menuntun kita mengenali wilayah kehidupan. Nilai saja, tidak akan mencukupi kehidupan ini. Contoh, ada perintah “Bekerjalah lebih tekun!” atau “berpikirlah positif”. Keduanya adalah nilai yang dipesankan dalam menjalankan pekerjaan dan kegiatan berpikir. Namun penerapan keduanya tidak berdaya dalam membuat perubahan bila tidak disertai dengan kejelasan wilayahnya, bahkan bisa membuat kita tersesat dalam nilai itu, karena tidak mengenali wilayah yang dikerjakan atau yang sedang dipikirkan. Sebuah kapal yang sedang terapung-apung di tengah lautan, tak hanya membutuhkan kalimat, “Berpikirlah positif” namun kejelasan di mana arah daratan berdasarkan kompas. Baru, dengan cara ini, berpikir positif akan menghasilkan penyelesaian masalah.
Jadi, di samping peta kita membutuhkan kompas (prinsip yang mendasari segala hal). Bila jurisprudensi (fiqh) adalah peta kehidupan, lalu apakah Kompas kehidupannya? Buku ini pada bab-bab berikutnya secara keseluruhan akan membicarakan kompas itu. Sebagai gambaran awal dapat dikemukakan bahwa kompas pemberi arah kehidupan bagi kehidupan tidaklah bersifat fisik, sebagaimana kompas arah mata angin. Kompas kehidupan adalah sejumlah prinsip yang menjadi dasar pembuatan peta dan cara menggunakan peta itu yang diyakini oleh seseorang. Jadi kompas ini bersifat pribadi. Soalnya adalah tidak semua prinsip dapat berfungsi sebagai kompas bagi seseorang kecuali bila prinsip-prinsip itu dipercayai dan dijadikan dasar rujukan pilihan sikap dan nilai oleh seseorang.
Sekali lagi dapat disimpulkan, bahwa kompas penentu arah kehidupan terdapat dalam diri seseorang. Karena itulah, barangkali, Covey menyebutnya sebagai kompas moral –sementara buku ini lebih memilih kata “kompas ruhani”.
Khatimah
Pada uraian sebelumnya telah dibicarakan bahwa perubahan kebiasaan manusia-hantu dapat dimulai dengan mencari jawaban atas pertanyaan apa, mengapa, bagaimana, dan untuk apa kehidupan ini bagi kita. Ini berarti, dalam kehidupan ini dibutuhkan kejelasan mengenai pelaku (siapa), aktivitas (apa), alasan/dasar bagi aktivitas (menagapa), keterampilan beraktivitas (bagaimana), dan tujuan dari tindakan itu (untuk apa). Maka prinsip yang diperlukan sebagai kompas ruhani kita adalah prinsip yang menjadi dasar dan memuat kesemua syarat tersebut di atas (pelaku, aktivitas, alasan/dasar bagi aktivitas, keterampilan beraktivitas, dan tujuan dari tindakan itu).
Di atas semua syarat itu, memperjelas siapakah manusia merupakan syarat utama yang tak tertolak. Bagaimanapun peta dan kompas berguna bila ada pelaku yang menggunakannya dalam sebuah perjalanan.