Jumat, 16 Januari 2009

NABI KAMBING

Jumat, 16 Januari 2009


Ini dongeng buat kita dari Muhammad Iqbal, tak hanya didengar namun juga dapat dijadikan sebagai cermin.

Alkisah dahulu kala, sekawanan kambing hidup bebas di padang rumput yang luas. Mereka hidup aman sentosa, dan dapat berkembang biak dengan leluasa. Tenaga kambing-kambing ini pun begitu kuatnya sampai-sampai sanggup menghalau semua ancaman dari binatang pemangsa.

Waktu berlalu, situasi pun berubah. Bencana mendatangi kawanan kambing itu, dari hutan belantara muncullah kumpulan harimau yang memburu mereka. Memangsa mereka semua. Merebut serta menjajah, harimau-harimau itu merebut kemerdekaan kawanan kambing. Padang rmput hijau itu lalu banjir oleh darah kambing. Sebagian besar kambing-kambing itu mati, kecuali seekor kambing tua yang licik, penuh tipu daya.

Kambing tua itu marah atas kebiadaban sang harimau, ia bertekad mengembalikan kejayaan masa lalunya. Kambing tua itu berpikir, kekuatan yang ia miliki tak mungkin dapat melawan keperkasaan harimau. Kambing tetaplah kambing, tak mungkin sekuat harimau. Kalau ia bermimpi merubah dirinya menjadi kambing seperti ksatria baja hitam itu semua hanya isapan jempol, hanya ada dalam dongeng anak-anak. Maka, kambing tua itu menyusun rencana, “Saya harus merubah harimau itu berhati kambing!” Rencana ini sebenarnya agak mustahil, namun lebih mungkin daripada menumbuhkan cakar pada kaki kambing atau menanam taring pada mulut kambing.

Lalu kambing itu mendatangi kawanan harimau dan mengaku dirinya sebagai Nabi. Ia mendapat ilham atau wahyu dari Tuhan untuk kawanan harimau. Nabi Kambing itu berkata pada kawanan harimau.

“Wahai kawanan harimau yang bengis, yang selalu membuat bencana dan menumpahkan darah di seantero padang rumput. Aku memperoleh kekuatan ruhani pada malam tadi. Ya…sejak malam tadi aku adalah Nabi, utusan Tuhan untuk kalian. Aku datang bagai pelita buat mata buta kalian. Aku membawa kabar gembira, bertobatlah kalian semua.

Wahai kaum pendosa, kembalilah ke jalan yang penuh cahaya

Kita semua, tanpa kecuali, pasti mengalami bencana

Keteguhan hidup duniawi tergantung bagaimana kita menahan diri

Ruh orang shaleh gemar akan makanan yang sederhana saja

Makan sayur mayor membuka jalan menuju cahaya Tuhan

Gigi yang tajam mengundang bencana.

Bila kalian tetap pada kebiasaan lama, akan butalah mata kalian…” Nabi Kambing itu berhenti sejenak. Ia menghela nafas sambil mencuri pandang pada kawanan harimau. Ia mengecek apakah khutbahnya berpengaruh atau tidak. Setelah memastikan bahwa kawanan harimau terpengaruh oleh khutbahnya, ia berkata lagi:

Surga diberikan kepada mereka yang lemah lembut

Kekuatan tenaga dan kekasaran sikap akan menciptakan bencana dan neraka

Bertobatlah kalian yang masih mengejar-ngejar kenikmatan duniawi.

Ketahuilah, kemiskinan lebih manis dari segala harta benda.

Wahai kalian yang menikmati penyembelihan kambing.

Coba kau bunuh dirimu sendiri, niscaya kalian akan mendapatkan prestasi mulia.

Belajarlah pada rumput, kaumku semua. Rumput, lihatlah rumput. Walaupun ia selalu terinjak, rumput tak pernah punah. Ia terus tumbuh dan tumbuh lagi. Itulah kekuatan sejati, tak pernah punah karena ditindas. Rahasia rumput adalah kelembutan, kemiskinan, dan ketakberdayaan. Dalam ketakberdayaan, dalam sikap menerima kemiskinan ditemukan kekuatan.

Jika kalian bijaksana, ayo lupakan dirimu. Lupakan kebiasaanmu memburu dan merasa puas dengan hasil buruanmu. Tahanlah dirimu kembali pada kebiasaan liar. Lupakan dirimu. Kalau kalian tak sanggup menahan diri, melupakan dirimu, berarti kalian mengidap kegilaan. Saya yakin, tak ada satupun yang mau menjadi gila. Maka palingkan perhatianmu dari kesuksesan duniawi, agar jiwamu dan cintamu melangit tinggi.

Ketahuilah dunia ini tidak abadi, sementara saja. Jangan terjebak untuk mencari-cari kesenangan di dunia ini, karena semuanya akan hancur dan saat itu kalian akan kecewa. Dunia ini seperti gelembung sabun, bundar dan terbang ke sana ke mari juga menarik perhatianmu. Kejarlah gelembung sabun itu seperti kebiasaanmu, kejarlah gelembung sabun itu agar kamu kecewa. Karena begitu kamu menadapatkannya, gelembung sabun itu akan pecah dan hanya sisa basah belaka.

Kawanan harimau yang sudah kelelahan melakukan pemburuan setiap hari, seperti mendapat pembenaran. “Iya juga ya, ngapain juga capek-capek berburu. Mendingan duduk santai dan menikmati cinta…apalagi kata Sang Nabi kita ini memberi garansi, dengan kelemahlembutan kita akan mendapatkan surga…surga…bo!”

Lalu kawanan harimau itu mengikuti ajaran agama yang dibawa kambing. Harimau-harimau itu kini gemar berpuasa dan berpantang makan daging. Mereka menahan kemarahan mereka dan mengembangkan sikap welas asih. Tumbuh-tumbuhan yang mereka jadikan makanan lambat laun menumpulkan gigi mereka. Berangsur-angsur pupus sudah kegarangan hariamu-harimau ini. Badan mereka lemah, langkah mereka pun lelah tak bertenaga. Tak ada geraman, tak ada ancaman. Mereka menjadi kawanan binatang yang miskin, waswas, dan rendah amal kebajikan.

***

Nah, bercermin pada dongeng ini, kita bisa memilih: menjadi kambing atau harimau. Bila kita merasa sebagai kambing yang tertindas, Iqbal memberi kita nasehat:

Hai manusia yang lemah

Lindungi dirimu

Biar terjerat penderitaan

Asalkan lolos dari bencana kebiadaban

Badai pasti berlalu

Tapi apabila diperdaya dengan kesumat

Kekacauan besar yang terpikirkan

So, kata Iqbal, kalaupun kita dalam keadaan lemah kita tak boleh menyerah. Kita harus mencoba menyelesaikannya. Caranya berpikirlah seperti kambing tua yang menyamar jadi Nabi Kambing. Jangan pula mendendam terlalu dalam, dendam akan membuat kita jadi terjebak pada pikiran yang kacau. Bertahanlah, selesaikan masalah satu persatu, kuasai pikiran musuhmu sampai mereka lemah.

Kalau saya sih membayangkan diri sebagai harimau yang tertipu itu. Harimau yang semula ganas, namun karena terpedaya tipuan Nabi Kambing lalu menjadi bangsa yang penurut dan terlalu lemah lembut. Saya adalah harimau-harimau itu, pada badan ini masih ada cakar dan taring yang siap untuk mencabik-cabik setiap kambing. Namun cakar dan taring ini sudah lama tak digunakan, saya sudah lupa pada bagaimana meloncat dan menyergap. Saya telah menjadi harimau yang kambing, harimau banci.

Sebagai harimau banci saya akan membangkitkan seluruh keberanian yang dulu pernah ada. Saya akan kembali menjadi harimau dan kembali memburu, kembali menjadi raja hutan. Karena itu saya akan menyusun langkah-langkah menuju penemuan diri saya yang sejati, sebagai harimau, sebagai penentu kehidupan, bukan sebagai pengekor yang selalu waswas.

Read More..

KITA INI MANUSIA SAMPAH

Bung!

Menyaksikan derita korban ledakan sampah, tiba-tiba saya menemukan satu ungkapan pencerahan, “Kita ini manusia sampah!”

Serentak setelah itu benak saya memancarkan situasi kita selama ini. Konon, menurut filsuf eksisitensialis, kita yang berada di tengah kemodernan ini mengalami situasi keterasingan yang akut. Keterasingan terjadi ketika dunia yang semula menjadi hunian yang menyenangkan berubah menjadi hunian yang sama sekali dapat dikenali dan bengis. Air yang semula dapat diminum tanpa dimasak, langsung diteguk dari mata air, kini menyimpan bakteri yang membuat kita mules, begitupun udara, langit, bumi, juga tubuh kita. Semuanya mendadak memusuhi secara tak terduga, menyingkirkan kita dari rasa aman. Lebih dari itu, kita pun telah saling asing, dulu di masing-masing rumah ada bale-bale, di sana sehabis Isya warga kampung duduk-duduk, melepas lelah dengan mengobrol, saling mempedulikan. Kini kesalingpedulian itu menghilang. Seperti air yang mengandung bakteri, tetangga-tetangga pun mendadak memandang kita dengan sikap tak acuh. Persis seperti pandangan mata terhadap sampah, tak peduli dan jijik. Kita benar-benar telah saling menganggap sampah antar sesama manusia.

Tulisan ini terlalu mengada-ada? Baik, kita lihat kondisi kita lebih dalam lagi. Sampah yang menggunduk di Leuwi Gajah berasal dari sisa sejumlah barang yang kita gunakan. Mulanya kita membeli sesuatu, isinya kita nikmati, sisanya (bisa berupa bungkus, atau bagian dari isi yang tak bisa dikonsumsi: habis manis sepah dibuang) dibuang begitu saja. Jadi sampah itu berasal bungkus dan sepah yang dibuang.

Kita coba perdalam pembicaraan kali ini. Konon, cara kita memperlakukan sesuatu yang remeh cukup menggambarkan bagaimana sikap dan pola pandang kita dalam kehidupan yang lebih besar. Sekarang kita cermati kehidupan keseharian. Mari, kita mulai dari pepatah habis manis sepah dibuang. Sejumlah saudara kita di Leuwi Gajah (juga seluruh rakyat Indonesia ini) tentu pernah memiliki rasa manis yang telah dihisap oleh petinggi negeri ini. Mereka dirayu untuk memilih partai x atau caleg y, saat itu keberadaan mereka luar biasa dimulyakan. Mereka diberi kaos, sembako, dan sejenisnya; lalu disusul dengan mobil khusus untuk mendapat hiburan dangdut di lapangan terbuka dan –tentu saja— rayuan dan pujian mengenai eksistensi rakyat kecil. “Kalianlah ujung tombak demokrasi, ujung tombak pembangunan, bla-bla-bla”. Segera setelah itu, rakyat kehilangan daya manisnya. Hanya sepah yang tersisa, dan tentu saja setelah itu disampahkan.

Perkara bungkus, sebenarnya kita ini termasuk manusia kocak. Seringkali kita membeli sesuatu berdasarkan penilaian terhadap kemasan. Bila kemasan bagus, kita terpedaya untuk menilai bahwa barangnya pastilah bagus. Kemasan kerapkali berhubungan dengan bungkus, jadi kita membeli sesuatu berdasarkan ketertarikan terhadap bungkus. Namun begitu kita memilikinya, bungkus itu dibuang begitu saja dan dianggap tidak penting lagi. Inilah kekocakannya, mulanya tertarik pada bungkus kemudian menghinakan bungkus itu. Dari kekocakan ini kita menemukan akar produksi sampah, yaitu bahwa ketertarikan kita pada kemasan/bungkus yang berlebih inilah yang menyebabkan kita memproduksi sampah secara berlebihan.

Dari amsal bungkus kemasan kita dapat menemukan kenyataan yang lebih besar lagi. Misalnya bahwa selama pemilu kemarin dan dalam banyak momen penggunaan hak memilih, kita menggunakan penilaian terhadap kemasan sebagai penentu. Janji-janji kampanye yang berbunga-bunga, penyebaran kaos atau spanduk, semuanya adalah kemasan yang menarik perhatian kita dalam memilih. Pikiran kita pun telah terbiasa hanya silau dan tertarik pada kemasan teori-teori saja, perkara kesahihan dan kebenaran isi urusan yang lain. Pokoknya ikutan trend, atau dalam istilah anak muda “Yang penting gaul!”, lebih dari itu tidak menjadi penting untuk dipikirkan. Situasi ini menyebabkan kepala kita lebih berisi “teori-teori sampah” yang salah satu cirinya adalah kelumpuhan di tingkat praksis. Lalu segera setelah teori itu kehilangan masanya, kita segera membuangnya sebagai sampah.

Bila pola dalam pikiran saja sudah berisi teori sampah, tentu cara kita memandang dunia, kehidupan, dan orang per-orang, tentulah menghasilkan hal yang sama. Semuanya dipandang sebagai sampah, juga diri sendiri. Semuanya sampah, tidak ada yang berharga untuk diperhatikan, dan karenanya layak untuk dicampakkan. Bukankah selama ini kita terbiasa tak peduli pada orang per-orang? Bukankah bila kita naik angkot atau bis kota dalam jam yang lama, kita begitu asing dan saling terasing? Bukankah perkara limbah yang memenuhi aliran Sungai Citarum yang konon akan mengancam ketersediaan aliran listrik di masa mendatang tak pernah ditanggai secara serius oleh kita semua? Bukankah selama ini kita membuang sampah secara sembarangan, tak peduli ada papan larangan, tanpa rasa bersalah sedikitpun?

Semua hal-ihwal perilaku kita itu, menunjukkan kesetiaan dalam memproduksi sampah tanpa rasa bersalah. Kita telah menjadi banal dalam ihwal sampah, kita merasa wajar dalam hal sampah. Seakan-sekan prinsip hidup kita adalah tiada hari tanpa sampah, seakan-akan missi hidup kita adalah mencipta sampah sampai mati.

Semuanya itu lama tak kita sadari, karena dalam kewajaran kita terjebak dalam karakter kekitaan. Begitu semua orang melakukan hal yang sama, secara berulang-ulang, pada waktu yang lama, saat itu kita menganggap kelakuan itu sebagai kebenaran yang wajar. Atau sebagai karekter bersama. Pada titik inilah kelimat pencerahan, ““Kita ini manusia sampah!” menemukan alasan dan muasalnya.

***

Bung, kita memang manusia sampah yang menghasilkan sampah segala hal. Mulai dari sampah rumah tangga, sampah industri, sampah kebijakan, sampah muballigh, sampah pendidikan, sampah tradisi, sampai sampah demokrasi semuanya adalah hasil dari kemanusiaan kita yang sampah. Semuanya sampah dan anehnya kita tetap merasa kerasan di dalamnya, mengenakannya, serta membanggakan kondisi ini. Padahal semua sampah pastilah kotor, bau, mengandung bakteri, dan terakhir bisa meledak secara mendadak.

Sudah lama semua ini benar-benar tak tersadari, lalu ada ledakan sampah di TPA Leuwi Gajah dan saat itulah kita tersentak. Mulanya kita pasti menganggapnya sebagai bencana biasa, salah satu alasannya karena media tak meliputnya seserius bencana Tsunami Aceh. Namun begitu parfum yang kita semprotkan pada baju kerja terkalahkan oleh gundukan sampah di halaman rumah, saat itu kita bertanya: ada apa? Lalu informasi mengenai Leuwi Gajah kita terima, dan saat itulah kita menemukan kesimpulan mengenai pentingnya pengelolaan terhadap sampah secara serius.

Satu bulan sudah kota ini dipenuhi oleh sampah sisa rumah tangga. Tak ada mobil sampah yang lewat karena tak ada satupun TPA yang mau menampung sampah. Ketika tak ada lagi pelayanan publik dari pemerintah kita, seraya runtuhlah sudah cita-cita menjadikan kota Bandung sebagai kota jasa yang bermartabat. Begitu halaman rumah serta seluruh jalan dipenuhi sampah, kita langsung merasa jijik dan muntah-muntah. Kita ingin membuangnya, tetapi kemana. Tak ada satupun TPA yang mau menerima sampah kota. Saat itu selayaknya kita mulai menyadari bahwa penderitaan sejenis telah bertahun-tahun dialami oleh masyarakat di sekitar TPA. Kita hanya baru satu bulan, mereka yang hidup di sekitar TPA sudah bertahun-tahun merasakan kejijikan dan muntah-muntah itu. Maka nikmatilah situasi ini, kita memang sedang dipaksa untuk bersolidaritas --entah sampai kapan.

Sampai kapan? Sampai kita mulai menyadari bahwa sampah bukan urusan remeh yang bisa diselesaikan oleh pemerintah. Sampah yang kita hasilkan semestinya menjadi tanggung jawab kita pribadi, toh rasa bau dan mualnya kita pula yang mengalaminya. Maka, (1) Kita sudah harus memilah sampah basah, kering, plastik dan kertas; lalu menempatkannya pada tempat terpisah; (2) sampah basah yang bisa diurai dapat kita kembalikan ke tanah agar ia direcycle tanah menjadi pupuk-penyubur, sedang sampah plastik dan kertas biarkan pera pemulung menjadikannya sebagai rejeki. Hanya itu saja? Tentu saja belum lengkap. Kita pun segera menyumbangkan barang kita yang bukan sampah pada mereka di sekitar TPA, sudah terlalu lama kita menghargai mereka dengan sampah saatnya sekarang kita menghargai mereka secara manusiawi.

Sesederhana itu sajakah? Tidak juga. Kita juga harus membereskan pikiran dan kebiasaan kita yang telah menjadi sampah. Maka, kita pun harus sudah pandai dan rajin memilah-milah pemikiran, teori, janji dan kebijakan pemerintah, ayat-ayat dakwah, dan sejenisnya lalu mau menempatkan pada tempatnya yang layak. Setelah itu, kita pun harus mampu merecycle pola pikir itu agar dapat menyuburkan bumi kesadaran, atau paling tidak agar dapat membahagiakan mereka yang benar-benar membutuhkannya. Tanpa perubahan pola pikir, tindakan praksis hanya akan berjalan sementara. Setelah kita terjebak pada rutinitas, kita akan kembali menjadi manusia (sampah) penghasil sampah.

Tahun ini, kita memang sedang mengalami pembukaan banyak hijab (selubung) tindakan ketaksadaran yang sudah menumpuk bertahun-tahun. Mulai dari alam yang retak, pemerintah yang kalap, perjudian yang ternyata mengurat nadi, sampai sampah pun ikut serta dalam pengelupasan selubung ketaksadaran kita.

Kalau hendak berbahagia, kinilah saat yang tepat untuk berbahagia. Rasulullah Muhammad membutuhkan waktu yang lama dan cara yang cukup berat, menyepi (tahannuts) dan merenung (qunut) di gua hira, untuk bisa menyingkap selubung kejahiliahan masyarakatnya. Sementara kita, begitu saja, dibukakan selubungnya secara jelas: Kita benar-benar Manusia Sampah!

Read More..

KITA BUTUH KOMPAS RUHANI

“Karena pikiran manusia tidak dapat memahami hakikat Tuhan dalam waktu yang singkat, kita dapat melakukannya dengan mengikuti saran Rainer Marie Rielke agar kita memikirkan Tuhan sebagai arah, bukan sebagai objek”

(Huston Smith, Why Religion Matters)


Kali ini ada sebuah amsal dari Sufi Fariduddin Attar. Bagi Attar beragama berarti melakukan perjalanan. Agama itu seperti kuda, katanya; dan beragama berarti menaiki kuda itu demi perjalanan menuju titik tujuan tertentu. Namun sayangnya, begitu catatan Attar, banyak pengendara kuda yang melupakan tujuan dan menganggap bahwa menaiki kuda itu sebagai tujuannya. Akibatnya, agama jadi tujuan, serentak pada saat itu Tuhan serta kedamaian sebagai spirit agama dilupakan. Ada banyak tindakan ummat Islam yang terlepas jauh dari ajarannya, sampai-sampai Sayyid Quthb, misalnya, sepulang dari Amerika pernah bergumam, “Kita beragama Islam, namun tidak Muslim; perilaku kehidupan sosial yang Islami ditemukan di masyarakat Eropa dan Amerika.”

Wah, bahaya juga nih. Jangan-jangan kita termasuk yang belum menjadi muslim, belum menjadikan spirit Islam ke dalam diri kita. Konon kata muslim adalah bentukan dari kata kerja salima, kata muslim adalah maf’ul (orang yang menjadi sebagaimana kata kerjanya). Bila Islam berarti selamat, menyelamatkan, kedamaian, atau pasrah; maka muslim berarti seseorang yang telah menjadikan seluruh makna itu dalam seluruh pikiran, perkataan, dan tindakannya. Apakah saya Muslim? Wow, nanti dulu. Dengan batasan ini, kita benar-benar belum Muslim, kita baru dicatat oleh pak RT sebagai Muslim sewaktu membuat KTP. Itu saja. Tak lebih.

Rasulullah pernah bersabda, “Kalau kamu beriman pada Allah dan Hari Akhir, hormatilah tetanggamu!” Ini sepele, namun betapa berat. Tak satupun tetangga yang dapat kita akrabi, semua tetangga kita curigai sebagai saingan dan penghalang kebebasan kita. Apalagi menghormati, mengetahui kondisinya saja tak sempat—lebih tepatnya tak sudi. Kita, diam-diam, sering menggunjingkan kondisi tetangga-tetangga, bahkan menuding, “lihatlah, betapa konyolnya mereka; dan betapa hebatnya saya!” Ini baru titah “menghormati”, apalagi satu hadits lain yang menyatakan, “Seseorang tidak beriman jika ia tidur karena kekenyangan, sementara tetangganya tidur karena terlalu lapar.” Bagaimana saya bisa memikirkan tetangga? Begitu punya uang, kita langsung memborong semua isi warung padang, semuanya kita beli dan kita lahap tanpa tengok kanan-kiri. Tak terbersit dalam pikiran kita untuk merenung, “Makan apakah tetangga saya hari ini?” No…no…no….Kehidupan adalah pulau yang terpisah: masalahku masalahku, masalahmu masalahmu; kamu sopan saya segan, kamu usik kulitku, saya tuntut ke meja hijau!!!

Terus ada lagi hadits yang….Sudah…sudah…jangan tambah lagi penderitaan ini dengan menengok muka retak ini. Kemusliman kita hanya sebatas kertas. Jangan lagi mengutip satu hadits pun, semuanya akan membuat kita jadi malu dan ketakutan. Apalagi setelah menemukan sebuah buku Charles Kimball yang berjudul “Kala Agama Jadi Bencana” (When Religion Becomes Evil). Pada buku Kimball menuliskan bahwa agama (khususnya Islam) telah menjadi bensin bagi api bencana. Membuat kerusuhan memang insting dasar manusia sebagai binatang yang suka marah, namun dengan agama insting itu menemukan alasan sucinya.

Kenapa Kimball menuduh kemusliman sebagai sumber bencana?

Tapi biarkan sajalah. Kondisi diri sebagai bayang-bayang memang berpotensi menyebabkan kita menjadi apapun. Menjadi bensin atau sekedar alas kakipun, bisa saja. Ini logis terjadi, karena kita memang bertindak tanpa pengetahuan, keterampilan, dan keinginan. Karena itu mari kita cermati bagian-bagian dari buku Kimball. Kita dapat bergerak cepat ke halaman lain yang lebih netral, yaitu halaman 280 saja. Kimball menuliskan bahwa beragama adalah perjalanan ziarah, yaitu

“Mencari dan menemukan petunjuk Tuhan sepanjang jalan. Maka kita pun dapat belajar dari perjalanan orang-orang yang—sepanjang perjalan sejarah—telah menghadapi tantangan yang serupa dan berbeda, juga dari tempat-tempat yang tak dikenal dan yang membahayakan. Kitab suci tidak memberikan peta terperinci tentang berbagai tempat pada abad ke-21. Bagi kita, kitab suci lebih menyerupai suatu peta bumi, yang menunjukkan kepada kita suatu gambar yang besar.”[1]

Peta memang tidak menunjukkan realitas, hanya bayangan yang memberi petunjuk. Realitas selalu lebih ruwet dari gambaran peta itu, maka yang kita butuhkan tidak melulu peta itu, tapi juga tindakan ziarah. Pada paragraf lain, Kimball melanjutkan renungannya, “Lebih dari sekadar peta, kita memerlukan kompas.” Seraya ia merujuk pada buku Stephen Covey, The Seven Habits of Highly Succesful People:

“Kita semakin membutuhkan visi atau tujuan dan kompas (sekumpulan prinsip atau petunjuk) dan kurang membutuhkan peta jalan. Kita sering tidak mengetahui akan seperti apa jalan di depan kita atau jalan mana yang perlu kita ketahui… Namun kompas batin kita akan selalu memberikan petunjuk kepada kita”.

Covey menegaskan dunia kehidupan sebagai penuh kejutan, sehingga kita “sering tidak mengetahui akan seperti apa jalan di depan kita atau jalan mana yang perlu kita ketahui”. Di dalam kondisi serba mengejutkan, serba berubah, serba membutuhkan perhatian yang terus-menerus baru, peta memang kurang dibutuhkan. Lebih tepatnya, di samping peta kita mesti menyertakan “kompas batin”, sehingga peta itu dapat diterapkan bagi perjalanan di tengah kehidupan.

Kitab suci hanyalah peta yang nilainya tergantung pada bagaimana kita menafsirkannya. Di samping itu peta terlalu bernilai umum yang karenanya susah untuk dijadikan petunjuk bagi perjalanan yang selalu berubah itu. Karenanya kompas diperlukan. Kompas itu bagi Covey adalah kejujuran, integritas, keterusterangan, nasib manusia, pengabdian, pertumbuhan, kesadaran, kedewasaan, dan keberanian. Sementara Kimball mengajukan perasan prinsip utama yang dirujukkan pada jantung agama, yaitu iman, harapan, dan cinta. Bagi Kimball, ketiga hal ini lebih dalam ketimbang hal-hal yang diajukan Covey.

Iman adalah suatu orientasi kepribadian, kepada diri, tetangga, jagat raya…suatu kapasitas untuk hidup lebih dari sekadar pada tingkat duniawi, untuk melihat, merasakan, dan bertindak dalam konteks dimensi “yang melampaui”. Ia ditimbulkan dan dipelihara oleh tradisi agama, dalam beberapa kasus dan pada derajat tertentu, oleh doktrinnya; namun iman adalah sifat seseorang, bukan kualitas suatu system…Jadi iman adalah sifat kehidupan manusia. Ia paling sering berbentuk kedamaian batin, dorongan, kesetiaan, dan pengabdian; kepercayaan diri dan kegembiraan diam-diam yang memungkinkan seseorang merasa betah di jagat raya ini dan memungkinkan seseorang menemukan makna di dunia dan dalam kehidupannya sendiri, suatu makna yang mendasar dan tertinggi, serta stabil, terlepas dari apa pun yang mungkin terjadi pada dirinya di tingkat peristiwa duniawi” (Wilfred Cantwell Smith, Fiath and Belief).

HARAPAN menjaga manusia ketika situasi yang tengah dihadapinya kurang ideal. Harapan adalah pandangan ke depan, bahkan ketika berbagai kendala tampak tak tertahankan, tradisi-tradisi agama mengarahkan umat kepada masa depan yang lebih menjanjikan….Harapan mengajak kita berusaha mencapai masa depan yang lebih baik. (Kimball, hal. 283)

Mari kita bayangkan bila kita memiliki kompas ruhani: iman, cinta dan harapan. Pada saat melaksanakan perintah agama sebagaimana tergambar pada kitab suci, tentu ada banyak hal yang “mengganggu”. Misalnya menemukan perbedaan yang mencolok dari cara orang lain melakukan ibadah, saat itu kita merasa heran dan kadang-kadang langsung menyalahkan si orang beda itu. Kita menilai mereka sebagai “menyimpang” dan mencerca atau menghujat. Semua ini dilakukan atas dasar “biasanya tidak seperti itu, kok orang itu melakukan hal yang berbeda sih?”

Apakah penilaian ini dilakukan atas dasar iman? Orang beriman tak diizinkan untuk berburuk sangka, untuk merasa diri benar. Merasa benar dapat berarti merasa memiliki kebenaran, padahal kebenaran selalu milik Allah, karenanya hanya kepada Dia seluruh pujian dapat diberikan.

Seorang guru di Syahadatain pernah berkata, “Rasulullah berbicara, tapi dia tidak membicarakan”. Rasulullah berbicara tentang suatu hal, namun isi pembicaraannya bukan dari dirinya. Pembicaraan Rasulullah selalu merujuk pada prinsip-prinsip Kitab Suci al-Quran, sehingga dapat dikatakan bahwa ia tidak sedang berbicara, ia hanya menyampaikan prinsip yang diyakininya. Pada saat yang lain, guru di Syahadatain berkata, “jangan pernah meludah, bicaralah!”. Aih, rupanya ada banyak pembicaraan kita yang sama seperti meludah. Dan pada saat itu pembicaraan kita tidak atas dasar iman. Konsekuensinya, suatu pembicaraan yang tidak didasari iman tidak akan memberikan harapan kepada orang lain, juga cinta. Harapan hanya dapat diberikan ketika kita bertindak atas dasar iman kepada Tuhan, bukan karena kondisi dan keinginan kita. Dalam diri Tuhan yang Maha Pemurah dan Penyayang semua orang memiliki harapan untuk menjadi baik dan lebih baik lagi, di sisi-Nya perbedaan adalah rahmat. Sedang dalam pandangan kita, perbedaan adalah penyimpangan.

Kalau begitu kenapa kita lupa bertindak atas dasar kompas ruhani? Atau apakah kita memiliki kompas RUHANI itu?

Jawabnya, kita telah terlalu lama bertindak di atas kebiasaan yang salah. Kita terjebak dalam “Karakter Kekitaan”, karakter orang banyak. Karena banyak orang lain berlaku begitu, maka kita pun begitu. Karena setiap hari banyak orang melakukan perbuatan x, maka kita menganggap bahwa perbuatan x itu benar.

Bertindak atas dasar iman bukan didasarkan oleh “karakter kekitaan”. Iman adalah prinsip yang kadang-kadang bertentangan dengan “karakter kekitaan”. Cara beragama kita, telah lama dininabobokan oleh sejumlah kebiasaan yang sesuai dengan keinginan kita. Padahal yang dibutuhkan adalah kebiasaan yang sesuai dengan iman, islam dan ihsan. Bertindak berdasar iman, islam, dan ihsan berarti tidak melulu bertindak berdasarkan petunjuk aturan baku, melainkan melalui pertimbangan diri sendiri yang telah beriman, berislam, dan berihsan. Atau bertindak berdasar kompas ruhani.

Kompas Ruhani

Charles Kimball telah menganggap Kitab Suci sebagai peta, “suatu peta bumi, yang menunjukkan kepada kita suatu gambar yang besar”. Terhadap peta yang menampilkan gambaran yang terlalu luas, dibutuhkan penerjemahan ke dalam bentuk-bentuk yang lebih sempit, berkonteks dengan kehidupan saat ini. Di sinilah fungsi strategis dari ulama. Lalu apa itu peta? Kenapa peta sama dengan kitab suci?

Peta adalah sejumlah nilai, atau gambaran dari rute perjalanan yang akan dilalui oleh kita dalam melakukan perjalanan. Beberapa kisah orang Suci (nabi, rasul dan shalihin) dalam al-Quran menggambarkan nilai dan gambaran perjalanan kehidupan manusia. Ada Firaun yang sombong berhadapan dengan Nabi Musa yang tegas, lalu Firaun digambarkan mengalami akhir yang mengenaskan. Kisah ini adalah peta yang berisi nilai bahwa kesombongan akan mengantarkan pelakunya pada kehancuran. Melalui kisah ini, kita dapat mengambil hikmah pada diri sendiri “jangan sombong, nanti seperti Firaun”.

Suatu nilai, apalagi yang merujuk pada Kitab Suci, bisa jadi universal (berlaku kapan saja dan di mana saja). Namun dalam suatu kisah tentang nilai tidak dikemukakan di mana dan kapan kita menggunakannya. Cerita atau uraian dalam kitab suci itu tak pernah mengusulkan dirinya untuk dipakai pada kondisi tertentu, kitalah yang pernah membacanya, teringat, lalu memutuskan bahwa nilai a dapat diterapkan pada kondisi ini. Peran kita sebagai subyek penentu mana nilai yang digunakan dan mana nilai yang ditunda sedemikian besar. Apalagi dalam sebuah kitab suci terdapat kumpulan nilai yang cukup banyak. Keberadaan nilai yang cukup banyak ini tidak dapat dipergunakan semuanya secara serentak, selalu ada prioritas. Rasulullah digambarkan ruhama (penuh kasih sayang) terhadap sesamanya; namun asyida’ (tegas) terhadap kafir. Ini berarti ada semacam strategi pemilihan dan penggunaan nilai berdasar kebutuhan dan konteks yang dihadapi subyek.

Nah, proses pemilihan nilai yang satu ketimbang nilai-nilai yang lain tidak dapat dilakukan secara sembarang. Persis seperti proses penetapan bahwa gunung yang ada di depan matalah yang sesuai dengan gambar dalam peta, tidak dapat dilakukan secara sembarang. Dibutuhkan bantuan kompas yang menunjukkan arah mata angin yang sesuai dengan kenyataan. Lalu dengan arah mata angin yang ditunjukkan kompas itu, kita dapat menentukan keabsahan peta berdasarkan wilayah yang nyata.

Simpulnya, ketika berhadapan dengan kenyataan kita tak bisa menebak peta; kita membutuhkan kompas. Begitupun dalam memilih nilai-nilai yang akan diterapkan dalam kehidupan. Kenapa nilai ini diaplikasikan, sementara nilai yang lain ditinggalkan, tidak bisa dihasilkan hanya melalui pemikiran sendiri. Keputusan memilih nilai tertentu membutuhkan sejenis Kompas yang kapan pun di manapun menunjuk arah utara yang pasti.

Kompas itu dalam kehidupan kita adalah prinsip. Prinsip adalah pandangan bagi perilaku manusia yang telah terbukti dan bertahan. Prinsip-prinsip tertentu mengatur efektivitas manusia. Prinsip-prinsip ini bagi Covey meliputi keadilan, kebaikan, martabat, kedermawanan, integritas, kejujuran, kualitas, pelayanan, dan kesabaran. “Saya tak yakin bahwa ada orang yang dengan serius menganggap ketidakadilan, tipu daya, kedangkalan, ketakbergunaan, mediokritas, atau degradasi sebagai suatu landasan yang kuat bagi kebahagiaan dan keberhasilan yang langgeng”.[2]

Nilai adalah peta, prinsip adalah wilayah. Peta bukanlah wilayah, peta hanyalah gambar atau wakil dari wilayah. Karena itu penggunaan peta tidak boleh tidak mensyaratkan adanya penggunaan kompas. Semakin serasi peta kita dengan kompas ( dengan prinsip-prinsip yang benar, dengan kenyataan wilayahnya, dengan hal-hal seperti apa adanya) semakin akurat dan berguna peta itu

Kompas Lebih Dibutuhkan Ketimbang Peta

Mengapa Kompas lebih dibutuhkan ketimbang peta? Ada beberapa alasan yang dapat dikemukakan:

- Kompas mengarahkan orang pada koordinat dan menunjuukkan arah bahkan di hutan, padang pasir, laut dan di daerah terbuka tanpa penghuni.

- Sewaktu wilayah berubah peta menjadi usang; dalam masa perubahan yang cepat, suatu peta mungkinsudah tidak akurat .

- Peta yang tidak akurat merupakan sumber frustasi besar bagi orang yang berusaha menemukan jalan atau mengarungi wilayah

- Untuk tiba di manapun dengan cepat, kita membutuhkan proses yang baik dan alur jalan bebas hambatan, dan untuk menemukan jalan bebas hambatan di belantara kita butuh sebuah kompas.

- Peta memberikan gambaran, sedangkan kompas lebih memberikan visi dan arah.


Pada Kompas terlihat keajegan dan kemampuannya dalam menunjuk pada wilayah sebagai mana adanya. Bila pada kenyataannya menunjuk utara, maka Kompas akan menunjuk dengan benar arah itu. Sementara, pada peta sebenarnya terdapat simbol U untuk utara, namun sama sekali tidak menunjukkan kenyataan yang sebenarnya. Dalam kehidupan nyata, kompas itu adalah prinsip yang tak berubah dan dapat menuntun kita mengenali wilayah kehidupan. Nilai saja, tidak akan mencukupi kehidupan ini. Contoh, ada perintah “Bekerjalah lebih tekun!” atau “berpikirlah positif”. Keduanya adalah nilai yang dipesankan dalam menjalankan pekerjaan dan kegiatan berpikir. Namun penerapan keduanya tidak berdaya dalam membuat perubahan bila tidak disertai dengan kejelasan wilayahnya, bahkan bisa membuat kita tersesat dalam nilai itu, karena tidak mengenali wilayah yang dikerjakan atau yang sedang dipikirkan. Sebuah kapal yang sedang terapung-apung di tengah lautan, tak hanya membutuhkan kalimat, “Berpikirlah positif” namun kejelasan di mana arah daratan berdasarkan kompas. Baru, dengan cara ini, berpikir positif akan menghasilkan penyelesaian masalah.

Jadi, di samping peta kita membutuhkan kompas (prinsip yang mendasari segala hal). Bila jurisprudensi (fiqh) adalah peta kehidupan, lalu apakah Kompas kehidupannya? Buku ini pada bab-bab berikutnya secara keseluruhan akan membicarakan kompas itu. Sebagai gambaran awal dapat dikemukakan bahwa kompas pemberi arah kehidupan bagi kehidupan tidaklah bersifat fisik, sebagaimana kompas arah mata angin. Kompas kehidupan adalah sejumlah prinsip yang menjadi dasar pembuatan peta dan cara menggunakan peta itu yang diyakini oleh seseorang. Jadi kompas ini bersifat pribadi. Soalnya adalah tidak semua prinsip dapat berfungsi sebagai kompas bagi seseorang kecuali bila prinsip-prinsip itu dipercayai dan dijadikan dasar rujukan pilihan sikap dan nilai oleh seseorang.

Sekali lagi dapat disimpulkan, bahwa kompas penentu arah kehidupan terdapat dalam diri seseorang. Karena itulah, barangkali, Covey menyebutnya sebagai kompas moral –sementara buku ini lebih memilih kata “kompas ruhani”.

Khatimah

Pada uraian sebelumnya telah dibicarakan bahwa perubahan kebiasaan manusia-hantu dapat dimulai dengan mencari jawaban atas pertanyaan apa, mengapa, bagaimana, dan untuk apa kehidupan ini bagi kita. Ini berarti, dalam kehidupan ini dibutuhkan kejelasan mengenai pelaku (siapa), aktivitas (apa), alasan/dasar bagi aktivitas (menagapa), keterampilan beraktivitas (bagaimana), dan tujuan dari tindakan itu (untuk apa). Maka prinsip yang diperlukan sebagai kompas ruhani kita adalah prinsip yang menjadi dasar dan memuat kesemua syarat tersebut di atas (pelaku, aktivitas, alasan/dasar bagi aktivitas, keterampilan beraktivitas, dan tujuan dari tindakan itu).

Di atas semua syarat itu, memperjelas siapakah manusia merupakan syarat utama yang tak tertolak. Bagaimanapun peta dan kompas berguna bila ada pelaku yang menggunakannya dalam sebuah perjalanan.



[1] Chalers Kimball, Kala Agama Jadi Bencana, Mizan, Bandung, 2003, hal. 280

[2] Stephen Covey, Peinciple Centered Leadership, Binarupa Aksara, Jakarta, 1997, hal. 113

Read More..

KENAPA SAYA DI SINI?

…..

Seorang lelaki terbangun dari tidurnya dan ia benar-benar terbangun, “Kenapa saya di sini? Ini kamar tidur siapa, rumah siapa?”

Ia berjalan keluar dari kamar itu, matanya masih mencari-cari jawaban pada dinding kamar itu. Beberapa baju bergelantungan, juga celana dan kaos dalam. Semuanya seukuran dengan badannya. Di luar kamar, matanya bertemu dengan dua anak-anak kecil, keduanya memiliki raut mirip dengannya. Kenapa ia mirip denganku? Hatinya bertanya-tanya, karena ia tahu dirinya anak tunggal dan saudara-saudara sepupunya tak diciptakan memiliki raut seperti dirinya. Aku memang limited edition, suatu ketika ia pernah bergurau demikian.

Anak-anak itu sibuk bermain, tak peduli pada lelaki kita yang masih kebingungan. Matanya terus mencari referensi seperti tangan yang begitu panik mencari tautan ketika sedang tenggelam. Nah itu dia, di dinding sana ada foto dirinya. Ya, itulah wajah yang selama ini dikenakannya. Itu adalah saya. Tetapi kenapa ada sosok perempuan “asing” di sampingnya, dan tiga orang anak-anak yang mukanya mirip dengan miliknya. Apakah Tuhan sudah menciptakan replika dari wajahnya, berarti anak-anak kecil itu adalah anak-anakku. Dan perempuan itu adalah….istriku…

Dunia mendadak bergetar, ini pasti mimpi. Ia masih ingat, beberapa saat yang lalu ia masih berjalan dengan pacarnya, dan itu bukan perempuan yang ada di dalam foto itu. Ia memang pernah bermimpi akan menikah dan beranak pinak, tetapi bukan dengan perempuan itu. Sialan, kenapa Tuhan kasih mimpi yang membingungkan. Lelaki itu kembali tidur sembari mengharapkan ia dapat kembali dengan pacarnya, bergandengan tangan, dan saling melempar puisi. Cintaku tak ada yang dapat memisahkan kita...

Matanya kini dipejamkan, memancing kantuk mengatupkan mata ke dunia ”nyata impiannya”. Mata yang semula digunakan untuk menyelidik rupanya sudah kerasan terus melek. Dipejamkan ulang, tetap saja tak bisa mengundang tidur. Suara anak-anak di luar kini terdengar saling bertengkar, mungkin memperebutkan boneka atau kue; suara pedagang jalanan terdengar lalu lalang, memukul mangkok atau wajan penggorengan.

”Ini dunia nyata, rupanya...Kenapa saya ada di sini?”, lelaki itu kembali menemukan pertanyaannya.

Pintu kamar terbuka, seorang perempuan –dan itu adalah perempuan di dalam foto yang ada di samping lelaki kita —masuk dan mendekati tubuh lelaki itu, ”Mas, bangunlah. Hari ini kita harus mengambil rapot pertama si cikal, anak kita!” Dengarlah, perempuan itu menyebutnya dengan panggilan mas, dan ia juga bilang anak kita!

”Ambillah sendiri, saya agak demam dan pusing!” Lelaki itu tidak bohong, ia memang mendadak meriang dan pusing menemukan pertanyaan yang tak bisa dijawabnya. ”Kenapa saya ada di sini?” Apa benar saya sudah menikah dengan perempuan ”asing” itu, dan beranak pinak tiga orang yang juga begitu ”asing”.

”Ayo bangunlah, kamu pasti sedang bermimpi!”

Kisah ini bukan fiksi, bukan juga cuplikan acara Termehek-mehek. Tapi tak usah diselidiki, siapa lelaki pemilik kisah ini. Sebab, bisa jadi lelaki itu adalah kita pada beberapa tahun ke depan.

Marilah kita beralih pada kisah lain, benakku menuntunku demikian. Kisah ini berasal dari Syuhrawardi Asy-Syahid, seorang filsuf cemerlang dari Persia. Ia menulis kisah yang menakutkan, tentang al-ghurbah al-gharbiyyah. Kisah ini dimulai dari pengakuan, ”Saya kini hidup di sebuah sumur yang gelap, sangat pekat sampai tangan sendiri pun tak bisa ditemukan...” Di sumur itu, ia terkerangkeng dalam penjara gelap. Tak ada besi atau borgol, hanya gelap meringkus seluruh dirinya. Di tengah gelap, ia tak bisa melakukan apapun, semuanya jadi tidak ada dan menakutkan.

Kemudian ia menceritakan ritus hidupnya, bahwa pada malam hari ia diberi kekuatan untuk naik keluar dari sumur gelap itu, menaiki menara dan bertemu dengan burung Hudhud. Burung itu menceritakan kabar tentang sesuatu yang ”seperti pernah dikenalinya” dulu. Kadang-kadang burung itu mengabarkan ”panggilan” bahwa tempatmu bukan di sini, bapak dan kakekmu menunggumu, kau harus keluar dari sumur gelap itu. Begitu fajar tiba, ia sudah kembali terlempar di sumur gelap dikerangkeng pekat.

Para penafsir kisah ini menyatakan bahwa ”di dalam sumur gelap, dikerangkeng pekat” adalah kehidupan ini. Kita hidup di dalam gelap pekat. Awalnya kita merasa kaget, karena itu kita menangis saat dilahirkan. Lama kelamaan kita merasa nyaman dan menciptakan tambatan dalam gelap itu. Mata pun semakin terbiasa pada kegelapan dan menemukan aktor lain di dalam sana. Perempuan atau lelaki akan menemukan pasangannya. Bila berjodoh, kawin mawin terjadilah.

Burung Hud-hud adalah kesadaran, adalah ilham. Ia datang sesekali pada saat mata atau indera melemah dan tidak lagi memasok informasi pada akal kita. Ia menceritakan kehidupan yang sebenarnya, ”duniamu bukan di sini, keluarlah dan temukan bapakmu!” Karena kita sering menampik seruan Hud-hud, hidup diteruskan di tempat gelap, kawin mawin dan beranak-pinak.

Kisah Syuhrawardi agak mirip dengan kisah manusia gua Plato. Al-kisah sejumlah orang terpenjara di dalam gua gelap. Tubuh mereka menghadap dinding gua dan tak pernah berbalik kanan melihat arah sebaliknya: sebuah mulut gua yang kecil dan sempit. Dari mulut gua itu sinar matahari masuk ke dalam gua, menerpa dinding dan menciptakan bayang-bayang. Bila ada burung melintas, dinding gua itu menampilkan sesuatu yang hitam-bersayap dan terbang, begitu pun bila ada daun jatuh --semuanya berwarna hitam.

Karena terbiasa menghadap dinding, mereka menganggap semua hal berwarna hitam kecuali tubuh mereka sendiri. Tak ada warna bagi mereka, karena sejak kecil tak pernah dtemukan warna. Kehidupan adalah hitam melulu.

Read More..

Selasa, 13 Januari 2009

AIR, KEINGINAN, DAN JAWABAN SEDERHANA

Selasa, 13 Januari 2009
..... Seorang lelaki dari sebuah pulau kecil, tanpa sungai, pergi berlayar ke pulau besar --pinggiran sebuah benua. Tak jelas niatnya, tak ada yang mencatatnya, juga tak ada buku harian. Namun konon, ia pergi berulangkali karena kagum pada pergerakan tepian sungai besar. Kadang pasang dan menumpas semua yang berdiri, hancur berantakan. Setelah itu air menyurut, menyisakan lumpur yang luar biasa subur. Di sisa rob, air pasang, itu ada kesuburan: kehidupan dan harapan suka cita. Semuanya tampak alamiah, tak ada campur tangan siapapun, dewa atau apapun tak terlihat usahanya di sana.
Tumpas dan tumbuh ditentukan oleh gerak air, lelaki itu bergumam. Benarkah? pikiran lain menderu mengikuti pikiran pertama. Kenapa di pulauku yang kecil tak pernah menyadari bahwa airlah sumber kehidupan, juga kematian?
Oh ya, di pulauku ada dongeng yang begitu dipercaya bahwa di puncak gunung yang menjulang, ada penguasa tak terlihat. Mereka, para penguasa itu, mengatur segala sesuatu. Kapan air hujan turun disebabkan oleh kuasa mereka, atau kemarahan mereka. Bagaimana perang tercipta, bahkan kenapa cinta jadi terbit pun ditentukan oleh hasrat mereka. Semua aspek kehidupan manusia diatur oleh mereka. Dulu ia sempat bertanya, bagaimana mungkin seluruh aspek kehidupan diatur oleh sosok seperti itu? Bapaknya menjawab, sangat mungkin jika mereka berjumlah banyak: satu sosok mengurus satu bagian kehidupan manusia; lalu satu orang yang sangat ditakuti di antara mereka menjadi penguasa, pengelola, dan pengendali. Simplenya, kehidupan ini, juga embun yang jatuh secara cemerlang, ditentukan oleh mereka.
Tapi di mana rupa kuasa mereka di tepian sungai besar ini? Lelaki ini kembali bertanya. Kepalanya memang sudah disesaki pertanyaan, entah kenapa --mungkin sudah bakat, atau memang karena dia sudah tak punya pekerjaan selain bertanya. Lelaki itu pulang lagi ke pulau kecilnya dan menemukan tanah kering menjadi subur setelah hujan turun. Di sini pun air menentukan kehidupan, dewa-dewa --sosok yang diceritakan orang tuanya-- tak pernah terlihat.
Lelaki itu mendadak gelisah. Ia menemukan rahasia terlarang, ia menemukan suatu gugatan yang akan membuat keyakinan lama akan guncang. Sudah lama, ia memang dirasuki pertanyaan tak biasa. Simpel tapi tak gampang dijawab. Apa asal muasal segala sesuatu, apakah
arkhe
? Dewa-dewalah asal muasal segala sesuatu, itu sudah mutlak, begitu jawab para tetua di kampungnya.
Lelaki itu lalu bergumam, asal muasal segala sesuatu adalah air. Dan ia bernama Thales.

Kawanku, mari menari bersama Thales.
Ia lelaki dengan jawaban sederhana: air, namun berhasil merubah peradaban manusia. Pertanyaannya tentang
arkhe membuat semua orang merumuskan ulang apa yang semula diyakininya sebagai benar. Keisengannya untuk mengaitkan jawaban dengan kenyataan, membuat keyakinan lama menjadi guncang.
Lelaki ini berani mengemas pertanyaan yang tak biasa: tentang SEBAB; sementara semua orang sibuk menghitung AKIBAT. Ia ingat benar ketika lautan mengamuk dengan badai, semua orang di pulau kecilnya ketakutan dan menyebarkan kabar bahwa, "Badai ini akibat dari kemarahan Dewa Laut, ia lapar dan meminta makanan!". Dewa rupanya sejenis anak kecil yang bila lapar ia tak bisa memenuhi kebutuhannya sendiri, lalu mengamuk adalah cara agar manusia memberikan kebutuhannya.
Di tanah lain, di India, pada abad yang kira-kira sama [maaf saya belum memeriksa akurasinya] seorang lelaki lain pun mengajukan pertanyaan yang sama, "Kenapa ada derita dalam hidup manusia?" Lelaki ini pun mengajukan pertanyaan tentang SEBAB, karena baginya pertanyaan tentang AKIBAT akan membuat kita terjebak pada kesusahan dan bukannya penyelesaian masalah. Lelaki India ini bernama Budha [yang terbangun saat yang lain tertidur lelap oleh AKIBAT], yang mengajak semua manusia untuk menonton "keinginan dalam diri" seraya membiarkan keinginan itu kelelahan dan berhenti bergerak.
Ya, bagi lelaki Budha ini, sebab dari semua kesengsaraan adalah KEINGINAN.
Keinginan selalu muncul dalam diri, ia seperti anak kecil yang ingin diperhatikan. Pikiran adalah arena pertunjukan bagi anak kecil keinginan. Ia merengek, marah-marah, atau merayu sampai kita menyimpulkan untuk merasa kasihan seraya memenuhi keinginannya. Sesekali tonton sajalah si anak kecil keinginan itu, biarkan ia merengek, menangis, atau merayu-rayu. Lihatlah keseluruhan dari pertunjukkanya, jangan terlalu cepat merasa kasihan padanya. Diamlah dan jadilah penonton dari geraknya, kelak ia akan berhenti sendiri tanpa harus memberikan apa-apa kepadanya.
Dua lelaki ini begitu luar biasa, bukan karena jawabannya namun karena pertanyaannya. Rupanya memang begitulah rahasia hidup, bukan pada jawaban yang dapat kita berikan namun pada pertanyaan "tak biasa" yang dapat kita ajukan.
Tetapi kita sudah lama tak bisa bertanya. Kita tak memproduksinya lagi, bahkan tak pernah mengharapkannya muncul dalam kehidupan sehari-hari. Pada anak kecil yang banyak bertanya, kita sering menghardik dan merasa jengkel. Akhirnya hidup dipenuhi jawaban-jawaban, tips-tips, mantra-mantra, dan
plasebo.
Hai, apakah ada jawaban tanpa pertanyaan?
Seharusnya memang tidak ada jawaban seperti itu, seharusnya jawaban terbit dari pertanyaan yang diajukan seperti terbitnya matahari ketika malam telah selesai.
Read More..
 
hanya debu . . . © 2008. Design by Pocket