Jumat, 16 Januari 2009

KITA INI MANUSIA SAMPAH

Jumat, 16 Januari 2009

Bung!

Menyaksikan derita korban ledakan sampah, tiba-tiba saya menemukan satu ungkapan pencerahan, “Kita ini manusia sampah!”

Serentak setelah itu benak saya memancarkan situasi kita selama ini. Konon, menurut filsuf eksisitensialis, kita yang berada di tengah kemodernan ini mengalami situasi keterasingan yang akut. Keterasingan terjadi ketika dunia yang semula menjadi hunian yang menyenangkan berubah menjadi hunian yang sama sekali dapat dikenali dan bengis. Air yang semula dapat diminum tanpa dimasak, langsung diteguk dari mata air, kini menyimpan bakteri yang membuat kita mules, begitupun udara, langit, bumi, juga tubuh kita. Semuanya mendadak memusuhi secara tak terduga, menyingkirkan kita dari rasa aman. Lebih dari itu, kita pun telah saling asing, dulu di masing-masing rumah ada bale-bale, di sana sehabis Isya warga kampung duduk-duduk, melepas lelah dengan mengobrol, saling mempedulikan. Kini kesalingpedulian itu menghilang. Seperti air yang mengandung bakteri, tetangga-tetangga pun mendadak memandang kita dengan sikap tak acuh. Persis seperti pandangan mata terhadap sampah, tak peduli dan jijik. Kita benar-benar telah saling menganggap sampah antar sesama manusia.

Tulisan ini terlalu mengada-ada? Baik, kita lihat kondisi kita lebih dalam lagi. Sampah yang menggunduk di Leuwi Gajah berasal dari sisa sejumlah barang yang kita gunakan. Mulanya kita membeli sesuatu, isinya kita nikmati, sisanya (bisa berupa bungkus, atau bagian dari isi yang tak bisa dikonsumsi: habis manis sepah dibuang) dibuang begitu saja. Jadi sampah itu berasal bungkus dan sepah yang dibuang.

Kita coba perdalam pembicaraan kali ini. Konon, cara kita memperlakukan sesuatu yang remeh cukup menggambarkan bagaimana sikap dan pola pandang kita dalam kehidupan yang lebih besar. Sekarang kita cermati kehidupan keseharian. Mari, kita mulai dari pepatah habis manis sepah dibuang. Sejumlah saudara kita di Leuwi Gajah (juga seluruh rakyat Indonesia ini) tentu pernah memiliki rasa manis yang telah dihisap oleh petinggi negeri ini. Mereka dirayu untuk memilih partai x atau caleg y, saat itu keberadaan mereka luar biasa dimulyakan. Mereka diberi kaos, sembako, dan sejenisnya; lalu disusul dengan mobil khusus untuk mendapat hiburan dangdut di lapangan terbuka dan –tentu saja— rayuan dan pujian mengenai eksistensi rakyat kecil. “Kalianlah ujung tombak demokrasi, ujung tombak pembangunan, bla-bla-bla”. Segera setelah itu, rakyat kehilangan daya manisnya. Hanya sepah yang tersisa, dan tentu saja setelah itu disampahkan.

Perkara bungkus, sebenarnya kita ini termasuk manusia kocak. Seringkali kita membeli sesuatu berdasarkan penilaian terhadap kemasan. Bila kemasan bagus, kita terpedaya untuk menilai bahwa barangnya pastilah bagus. Kemasan kerapkali berhubungan dengan bungkus, jadi kita membeli sesuatu berdasarkan ketertarikan terhadap bungkus. Namun begitu kita memilikinya, bungkus itu dibuang begitu saja dan dianggap tidak penting lagi. Inilah kekocakannya, mulanya tertarik pada bungkus kemudian menghinakan bungkus itu. Dari kekocakan ini kita menemukan akar produksi sampah, yaitu bahwa ketertarikan kita pada kemasan/bungkus yang berlebih inilah yang menyebabkan kita memproduksi sampah secara berlebihan.

Dari amsal bungkus kemasan kita dapat menemukan kenyataan yang lebih besar lagi. Misalnya bahwa selama pemilu kemarin dan dalam banyak momen penggunaan hak memilih, kita menggunakan penilaian terhadap kemasan sebagai penentu. Janji-janji kampanye yang berbunga-bunga, penyebaran kaos atau spanduk, semuanya adalah kemasan yang menarik perhatian kita dalam memilih. Pikiran kita pun telah terbiasa hanya silau dan tertarik pada kemasan teori-teori saja, perkara kesahihan dan kebenaran isi urusan yang lain. Pokoknya ikutan trend, atau dalam istilah anak muda “Yang penting gaul!”, lebih dari itu tidak menjadi penting untuk dipikirkan. Situasi ini menyebabkan kepala kita lebih berisi “teori-teori sampah” yang salah satu cirinya adalah kelumpuhan di tingkat praksis. Lalu segera setelah teori itu kehilangan masanya, kita segera membuangnya sebagai sampah.

Bila pola dalam pikiran saja sudah berisi teori sampah, tentu cara kita memandang dunia, kehidupan, dan orang per-orang, tentulah menghasilkan hal yang sama. Semuanya dipandang sebagai sampah, juga diri sendiri. Semuanya sampah, tidak ada yang berharga untuk diperhatikan, dan karenanya layak untuk dicampakkan. Bukankah selama ini kita terbiasa tak peduli pada orang per-orang? Bukankah bila kita naik angkot atau bis kota dalam jam yang lama, kita begitu asing dan saling terasing? Bukankah perkara limbah yang memenuhi aliran Sungai Citarum yang konon akan mengancam ketersediaan aliran listrik di masa mendatang tak pernah ditanggai secara serius oleh kita semua? Bukankah selama ini kita membuang sampah secara sembarangan, tak peduli ada papan larangan, tanpa rasa bersalah sedikitpun?

Semua hal-ihwal perilaku kita itu, menunjukkan kesetiaan dalam memproduksi sampah tanpa rasa bersalah. Kita telah menjadi banal dalam ihwal sampah, kita merasa wajar dalam hal sampah. Seakan-sekan prinsip hidup kita adalah tiada hari tanpa sampah, seakan-akan missi hidup kita adalah mencipta sampah sampai mati.

Semuanya itu lama tak kita sadari, karena dalam kewajaran kita terjebak dalam karakter kekitaan. Begitu semua orang melakukan hal yang sama, secara berulang-ulang, pada waktu yang lama, saat itu kita menganggap kelakuan itu sebagai kebenaran yang wajar. Atau sebagai karekter bersama. Pada titik inilah kelimat pencerahan, ““Kita ini manusia sampah!” menemukan alasan dan muasalnya.

***

Bung, kita memang manusia sampah yang menghasilkan sampah segala hal. Mulai dari sampah rumah tangga, sampah industri, sampah kebijakan, sampah muballigh, sampah pendidikan, sampah tradisi, sampai sampah demokrasi semuanya adalah hasil dari kemanusiaan kita yang sampah. Semuanya sampah dan anehnya kita tetap merasa kerasan di dalamnya, mengenakannya, serta membanggakan kondisi ini. Padahal semua sampah pastilah kotor, bau, mengandung bakteri, dan terakhir bisa meledak secara mendadak.

Sudah lama semua ini benar-benar tak tersadari, lalu ada ledakan sampah di TPA Leuwi Gajah dan saat itulah kita tersentak. Mulanya kita pasti menganggapnya sebagai bencana biasa, salah satu alasannya karena media tak meliputnya seserius bencana Tsunami Aceh. Namun begitu parfum yang kita semprotkan pada baju kerja terkalahkan oleh gundukan sampah di halaman rumah, saat itu kita bertanya: ada apa? Lalu informasi mengenai Leuwi Gajah kita terima, dan saat itulah kita menemukan kesimpulan mengenai pentingnya pengelolaan terhadap sampah secara serius.

Satu bulan sudah kota ini dipenuhi oleh sampah sisa rumah tangga. Tak ada mobil sampah yang lewat karena tak ada satupun TPA yang mau menampung sampah. Ketika tak ada lagi pelayanan publik dari pemerintah kita, seraya runtuhlah sudah cita-cita menjadikan kota Bandung sebagai kota jasa yang bermartabat. Begitu halaman rumah serta seluruh jalan dipenuhi sampah, kita langsung merasa jijik dan muntah-muntah. Kita ingin membuangnya, tetapi kemana. Tak ada satupun TPA yang mau menerima sampah kota. Saat itu selayaknya kita mulai menyadari bahwa penderitaan sejenis telah bertahun-tahun dialami oleh masyarakat di sekitar TPA. Kita hanya baru satu bulan, mereka yang hidup di sekitar TPA sudah bertahun-tahun merasakan kejijikan dan muntah-muntah itu. Maka nikmatilah situasi ini, kita memang sedang dipaksa untuk bersolidaritas --entah sampai kapan.

Sampai kapan? Sampai kita mulai menyadari bahwa sampah bukan urusan remeh yang bisa diselesaikan oleh pemerintah. Sampah yang kita hasilkan semestinya menjadi tanggung jawab kita pribadi, toh rasa bau dan mualnya kita pula yang mengalaminya. Maka, (1) Kita sudah harus memilah sampah basah, kering, plastik dan kertas; lalu menempatkannya pada tempat terpisah; (2) sampah basah yang bisa diurai dapat kita kembalikan ke tanah agar ia direcycle tanah menjadi pupuk-penyubur, sedang sampah plastik dan kertas biarkan pera pemulung menjadikannya sebagai rejeki. Hanya itu saja? Tentu saja belum lengkap. Kita pun segera menyumbangkan barang kita yang bukan sampah pada mereka di sekitar TPA, sudah terlalu lama kita menghargai mereka dengan sampah saatnya sekarang kita menghargai mereka secara manusiawi.

Sesederhana itu sajakah? Tidak juga. Kita juga harus membereskan pikiran dan kebiasaan kita yang telah menjadi sampah. Maka, kita pun harus sudah pandai dan rajin memilah-milah pemikiran, teori, janji dan kebijakan pemerintah, ayat-ayat dakwah, dan sejenisnya lalu mau menempatkan pada tempatnya yang layak. Setelah itu, kita pun harus mampu merecycle pola pikir itu agar dapat menyuburkan bumi kesadaran, atau paling tidak agar dapat membahagiakan mereka yang benar-benar membutuhkannya. Tanpa perubahan pola pikir, tindakan praksis hanya akan berjalan sementara. Setelah kita terjebak pada rutinitas, kita akan kembali menjadi manusia (sampah) penghasil sampah.

Tahun ini, kita memang sedang mengalami pembukaan banyak hijab (selubung) tindakan ketaksadaran yang sudah menumpuk bertahun-tahun. Mulai dari alam yang retak, pemerintah yang kalap, perjudian yang ternyata mengurat nadi, sampai sampah pun ikut serta dalam pengelupasan selubung ketaksadaran kita.

Kalau hendak berbahagia, kinilah saat yang tepat untuk berbahagia. Rasulullah Muhammad membutuhkan waktu yang lama dan cara yang cukup berat, menyepi (tahannuts) dan merenung (qunut) di gua hira, untuk bisa menyingkap selubung kejahiliahan masyarakatnya. Sementara kita, begitu saja, dibukakan selubungnya secara jelas: Kita benar-benar Manusia Sampah!

0 komentar:

Posting Komentar

 
hanya debu . . . © 2008. Design by Pocket