Jumat, 16 Januari 2009

NABI KAMBING

Jumat, 16 Januari 2009


Ini dongeng buat kita dari Muhammad Iqbal, tak hanya didengar namun juga dapat dijadikan sebagai cermin.

Alkisah dahulu kala, sekawanan kambing hidup bebas di padang rumput yang luas. Mereka hidup aman sentosa, dan dapat berkembang biak dengan leluasa. Tenaga kambing-kambing ini pun begitu kuatnya sampai-sampai sanggup menghalau semua ancaman dari binatang pemangsa.

Waktu berlalu, situasi pun berubah. Bencana mendatangi kawanan kambing itu, dari hutan belantara muncullah kumpulan harimau yang memburu mereka. Memangsa mereka semua. Merebut serta menjajah, harimau-harimau itu merebut kemerdekaan kawanan kambing. Padang rmput hijau itu lalu banjir oleh darah kambing. Sebagian besar kambing-kambing itu mati, kecuali seekor kambing tua yang licik, penuh tipu daya.

Kambing tua itu marah atas kebiadaban sang harimau, ia bertekad mengembalikan kejayaan masa lalunya. Kambing tua itu berpikir, kekuatan yang ia miliki tak mungkin dapat melawan keperkasaan harimau. Kambing tetaplah kambing, tak mungkin sekuat harimau. Kalau ia bermimpi merubah dirinya menjadi kambing seperti ksatria baja hitam itu semua hanya isapan jempol, hanya ada dalam dongeng anak-anak. Maka, kambing tua itu menyusun rencana, “Saya harus merubah harimau itu berhati kambing!” Rencana ini sebenarnya agak mustahil, namun lebih mungkin daripada menumbuhkan cakar pada kaki kambing atau menanam taring pada mulut kambing.

Lalu kambing itu mendatangi kawanan harimau dan mengaku dirinya sebagai Nabi. Ia mendapat ilham atau wahyu dari Tuhan untuk kawanan harimau. Nabi Kambing itu berkata pada kawanan harimau.

“Wahai kawanan harimau yang bengis, yang selalu membuat bencana dan menumpahkan darah di seantero padang rumput. Aku memperoleh kekuatan ruhani pada malam tadi. Ya…sejak malam tadi aku adalah Nabi, utusan Tuhan untuk kalian. Aku datang bagai pelita buat mata buta kalian. Aku membawa kabar gembira, bertobatlah kalian semua.

Wahai kaum pendosa, kembalilah ke jalan yang penuh cahaya

Kita semua, tanpa kecuali, pasti mengalami bencana

Keteguhan hidup duniawi tergantung bagaimana kita menahan diri

Ruh orang shaleh gemar akan makanan yang sederhana saja

Makan sayur mayor membuka jalan menuju cahaya Tuhan

Gigi yang tajam mengundang bencana.

Bila kalian tetap pada kebiasaan lama, akan butalah mata kalian…” Nabi Kambing itu berhenti sejenak. Ia menghela nafas sambil mencuri pandang pada kawanan harimau. Ia mengecek apakah khutbahnya berpengaruh atau tidak. Setelah memastikan bahwa kawanan harimau terpengaruh oleh khutbahnya, ia berkata lagi:

Surga diberikan kepada mereka yang lemah lembut

Kekuatan tenaga dan kekasaran sikap akan menciptakan bencana dan neraka

Bertobatlah kalian yang masih mengejar-ngejar kenikmatan duniawi.

Ketahuilah, kemiskinan lebih manis dari segala harta benda.

Wahai kalian yang menikmati penyembelihan kambing.

Coba kau bunuh dirimu sendiri, niscaya kalian akan mendapatkan prestasi mulia.

Belajarlah pada rumput, kaumku semua. Rumput, lihatlah rumput. Walaupun ia selalu terinjak, rumput tak pernah punah. Ia terus tumbuh dan tumbuh lagi. Itulah kekuatan sejati, tak pernah punah karena ditindas. Rahasia rumput adalah kelembutan, kemiskinan, dan ketakberdayaan. Dalam ketakberdayaan, dalam sikap menerima kemiskinan ditemukan kekuatan.

Jika kalian bijaksana, ayo lupakan dirimu. Lupakan kebiasaanmu memburu dan merasa puas dengan hasil buruanmu. Tahanlah dirimu kembali pada kebiasaan liar. Lupakan dirimu. Kalau kalian tak sanggup menahan diri, melupakan dirimu, berarti kalian mengidap kegilaan. Saya yakin, tak ada satupun yang mau menjadi gila. Maka palingkan perhatianmu dari kesuksesan duniawi, agar jiwamu dan cintamu melangit tinggi.

Ketahuilah dunia ini tidak abadi, sementara saja. Jangan terjebak untuk mencari-cari kesenangan di dunia ini, karena semuanya akan hancur dan saat itu kalian akan kecewa. Dunia ini seperti gelembung sabun, bundar dan terbang ke sana ke mari juga menarik perhatianmu. Kejarlah gelembung sabun itu seperti kebiasaanmu, kejarlah gelembung sabun itu agar kamu kecewa. Karena begitu kamu menadapatkannya, gelembung sabun itu akan pecah dan hanya sisa basah belaka.

Kawanan harimau yang sudah kelelahan melakukan pemburuan setiap hari, seperti mendapat pembenaran. “Iya juga ya, ngapain juga capek-capek berburu. Mendingan duduk santai dan menikmati cinta…apalagi kata Sang Nabi kita ini memberi garansi, dengan kelemahlembutan kita akan mendapatkan surga…surga…bo!”

Lalu kawanan harimau itu mengikuti ajaran agama yang dibawa kambing. Harimau-harimau itu kini gemar berpuasa dan berpantang makan daging. Mereka menahan kemarahan mereka dan mengembangkan sikap welas asih. Tumbuh-tumbuhan yang mereka jadikan makanan lambat laun menumpulkan gigi mereka. Berangsur-angsur pupus sudah kegarangan hariamu-harimau ini. Badan mereka lemah, langkah mereka pun lelah tak bertenaga. Tak ada geraman, tak ada ancaman. Mereka menjadi kawanan binatang yang miskin, waswas, dan rendah amal kebajikan.

***

Nah, bercermin pada dongeng ini, kita bisa memilih: menjadi kambing atau harimau. Bila kita merasa sebagai kambing yang tertindas, Iqbal memberi kita nasehat:

Hai manusia yang lemah

Lindungi dirimu

Biar terjerat penderitaan

Asalkan lolos dari bencana kebiadaban

Badai pasti berlalu

Tapi apabila diperdaya dengan kesumat

Kekacauan besar yang terpikirkan

So, kata Iqbal, kalaupun kita dalam keadaan lemah kita tak boleh menyerah. Kita harus mencoba menyelesaikannya. Caranya berpikirlah seperti kambing tua yang menyamar jadi Nabi Kambing. Jangan pula mendendam terlalu dalam, dendam akan membuat kita jadi terjebak pada pikiran yang kacau. Bertahanlah, selesaikan masalah satu persatu, kuasai pikiran musuhmu sampai mereka lemah.

Kalau saya sih membayangkan diri sebagai harimau yang tertipu itu. Harimau yang semula ganas, namun karena terpedaya tipuan Nabi Kambing lalu menjadi bangsa yang penurut dan terlalu lemah lembut. Saya adalah harimau-harimau itu, pada badan ini masih ada cakar dan taring yang siap untuk mencabik-cabik setiap kambing. Namun cakar dan taring ini sudah lama tak digunakan, saya sudah lupa pada bagaimana meloncat dan menyergap. Saya telah menjadi harimau yang kambing, harimau banci.

Sebagai harimau banci saya akan membangkitkan seluruh keberanian yang dulu pernah ada. Saya akan kembali menjadi harimau dan kembali memburu, kembali menjadi raja hutan. Karena itu saya akan menyusun langkah-langkah menuju penemuan diri saya yang sejati, sebagai harimau, sebagai penentu kehidupan, bukan sebagai pengekor yang selalu waswas.

Read More..

KITA INI MANUSIA SAMPAH

Bung!

Menyaksikan derita korban ledakan sampah, tiba-tiba saya menemukan satu ungkapan pencerahan, “Kita ini manusia sampah!”

Serentak setelah itu benak saya memancarkan situasi kita selama ini. Konon, menurut filsuf eksisitensialis, kita yang berada di tengah kemodernan ini mengalami situasi keterasingan yang akut. Keterasingan terjadi ketika dunia yang semula menjadi hunian yang menyenangkan berubah menjadi hunian yang sama sekali dapat dikenali dan bengis. Air yang semula dapat diminum tanpa dimasak, langsung diteguk dari mata air, kini menyimpan bakteri yang membuat kita mules, begitupun udara, langit, bumi, juga tubuh kita. Semuanya mendadak memusuhi secara tak terduga, menyingkirkan kita dari rasa aman. Lebih dari itu, kita pun telah saling asing, dulu di masing-masing rumah ada bale-bale, di sana sehabis Isya warga kampung duduk-duduk, melepas lelah dengan mengobrol, saling mempedulikan. Kini kesalingpedulian itu menghilang. Seperti air yang mengandung bakteri, tetangga-tetangga pun mendadak memandang kita dengan sikap tak acuh. Persis seperti pandangan mata terhadap sampah, tak peduli dan jijik. Kita benar-benar telah saling menganggap sampah antar sesama manusia.

Tulisan ini terlalu mengada-ada? Baik, kita lihat kondisi kita lebih dalam lagi. Sampah yang menggunduk di Leuwi Gajah berasal dari sisa sejumlah barang yang kita gunakan. Mulanya kita membeli sesuatu, isinya kita nikmati, sisanya (bisa berupa bungkus, atau bagian dari isi yang tak bisa dikonsumsi: habis manis sepah dibuang) dibuang begitu saja. Jadi sampah itu berasal bungkus dan sepah yang dibuang.

Kita coba perdalam pembicaraan kali ini. Konon, cara kita memperlakukan sesuatu yang remeh cukup menggambarkan bagaimana sikap dan pola pandang kita dalam kehidupan yang lebih besar. Sekarang kita cermati kehidupan keseharian. Mari, kita mulai dari pepatah habis manis sepah dibuang. Sejumlah saudara kita di Leuwi Gajah (juga seluruh rakyat Indonesia ini) tentu pernah memiliki rasa manis yang telah dihisap oleh petinggi negeri ini. Mereka dirayu untuk memilih partai x atau caleg y, saat itu keberadaan mereka luar biasa dimulyakan. Mereka diberi kaos, sembako, dan sejenisnya; lalu disusul dengan mobil khusus untuk mendapat hiburan dangdut di lapangan terbuka dan –tentu saja— rayuan dan pujian mengenai eksistensi rakyat kecil. “Kalianlah ujung tombak demokrasi, ujung tombak pembangunan, bla-bla-bla”. Segera setelah itu, rakyat kehilangan daya manisnya. Hanya sepah yang tersisa, dan tentu saja setelah itu disampahkan.

Perkara bungkus, sebenarnya kita ini termasuk manusia kocak. Seringkali kita membeli sesuatu berdasarkan penilaian terhadap kemasan. Bila kemasan bagus, kita terpedaya untuk menilai bahwa barangnya pastilah bagus. Kemasan kerapkali berhubungan dengan bungkus, jadi kita membeli sesuatu berdasarkan ketertarikan terhadap bungkus. Namun begitu kita memilikinya, bungkus itu dibuang begitu saja dan dianggap tidak penting lagi. Inilah kekocakannya, mulanya tertarik pada bungkus kemudian menghinakan bungkus itu. Dari kekocakan ini kita menemukan akar produksi sampah, yaitu bahwa ketertarikan kita pada kemasan/bungkus yang berlebih inilah yang menyebabkan kita memproduksi sampah secara berlebihan.

Dari amsal bungkus kemasan kita dapat menemukan kenyataan yang lebih besar lagi. Misalnya bahwa selama pemilu kemarin dan dalam banyak momen penggunaan hak memilih, kita menggunakan penilaian terhadap kemasan sebagai penentu. Janji-janji kampanye yang berbunga-bunga, penyebaran kaos atau spanduk, semuanya adalah kemasan yang menarik perhatian kita dalam memilih. Pikiran kita pun telah terbiasa hanya silau dan tertarik pada kemasan teori-teori saja, perkara kesahihan dan kebenaran isi urusan yang lain. Pokoknya ikutan trend, atau dalam istilah anak muda “Yang penting gaul!”, lebih dari itu tidak menjadi penting untuk dipikirkan. Situasi ini menyebabkan kepala kita lebih berisi “teori-teori sampah” yang salah satu cirinya adalah kelumpuhan di tingkat praksis. Lalu segera setelah teori itu kehilangan masanya, kita segera membuangnya sebagai sampah.

Bila pola dalam pikiran saja sudah berisi teori sampah, tentu cara kita memandang dunia, kehidupan, dan orang per-orang, tentulah menghasilkan hal yang sama. Semuanya dipandang sebagai sampah, juga diri sendiri. Semuanya sampah, tidak ada yang berharga untuk diperhatikan, dan karenanya layak untuk dicampakkan. Bukankah selama ini kita terbiasa tak peduli pada orang per-orang? Bukankah bila kita naik angkot atau bis kota dalam jam yang lama, kita begitu asing dan saling terasing? Bukankah perkara limbah yang memenuhi aliran Sungai Citarum yang konon akan mengancam ketersediaan aliran listrik di masa mendatang tak pernah ditanggai secara serius oleh kita semua? Bukankah selama ini kita membuang sampah secara sembarangan, tak peduli ada papan larangan, tanpa rasa bersalah sedikitpun?

Semua hal-ihwal perilaku kita itu, menunjukkan kesetiaan dalam memproduksi sampah tanpa rasa bersalah. Kita telah menjadi banal dalam ihwal sampah, kita merasa wajar dalam hal sampah. Seakan-sekan prinsip hidup kita adalah tiada hari tanpa sampah, seakan-akan missi hidup kita adalah mencipta sampah sampai mati.

Semuanya itu lama tak kita sadari, karena dalam kewajaran kita terjebak dalam karakter kekitaan. Begitu semua orang melakukan hal yang sama, secara berulang-ulang, pada waktu yang lama, saat itu kita menganggap kelakuan itu sebagai kebenaran yang wajar. Atau sebagai karekter bersama. Pada titik inilah kelimat pencerahan, ““Kita ini manusia sampah!” menemukan alasan dan muasalnya.

***

Bung, kita memang manusia sampah yang menghasilkan sampah segala hal. Mulai dari sampah rumah tangga, sampah industri, sampah kebijakan, sampah muballigh, sampah pendidikan, sampah tradisi, sampai sampah demokrasi semuanya adalah hasil dari kemanusiaan kita yang sampah. Semuanya sampah dan anehnya kita tetap merasa kerasan di dalamnya, mengenakannya, serta membanggakan kondisi ini. Padahal semua sampah pastilah kotor, bau, mengandung bakteri, dan terakhir bisa meledak secara mendadak.

Sudah lama semua ini benar-benar tak tersadari, lalu ada ledakan sampah di TPA Leuwi Gajah dan saat itulah kita tersentak. Mulanya kita pasti menganggapnya sebagai bencana biasa, salah satu alasannya karena media tak meliputnya seserius bencana Tsunami Aceh. Namun begitu parfum yang kita semprotkan pada baju kerja terkalahkan oleh gundukan sampah di halaman rumah, saat itu kita bertanya: ada apa? Lalu informasi mengenai Leuwi Gajah kita terima, dan saat itulah kita menemukan kesimpulan mengenai pentingnya pengelolaan terhadap sampah secara serius.

Satu bulan sudah kota ini dipenuhi oleh sampah sisa rumah tangga. Tak ada mobil sampah yang lewat karena tak ada satupun TPA yang mau menampung sampah. Ketika tak ada lagi pelayanan publik dari pemerintah kita, seraya runtuhlah sudah cita-cita menjadikan kota Bandung sebagai kota jasa yang bermartabat. Begitu halaman rumah serta seluruh jalan dipenuhi sampah, kita langsung merasa jijik dan muntah-muntah. Kita ingin membuangnya, tetapi kemana. Tak ada satupun TPA yang mau menerima sampah kota. Saat itu selayaknya kita mulai menyadari bahwa penderitaan sejenis telah bertahun-tahun dialami oleh masyarakat di sekitar TPA. Kita hanya baru satu bulan, mereka yang hidup di sekitar TPA sudah bertahun-tahun merasakan kejijikan dan muntah-muntah itu. Maka nikmatilah situasi ini, kita memang sedang dipaksa untuk bersolidaritas --entah sampai kapan.

Sampai kapan? Sampai kita mulai menyadari bahwa sampah bukan urusan remeh yang bisa diselesaikan oleh pemerintah. Sampah yang kita hasilkan semestinya menjadi tanggung jawab kita pribadi, toh rasa bau dan mualnya kita pula yang mengalaminya. Maka, (1) Kita sudah harus memilah sampah basah, kering, plastik dan kertas; lalu menempatkannya pada tempat terpisah; (2) sampah basah yang bisa diurai dapat kita kembalikan ke tanah agar ia direcycle tanah menjadi pupuk-penyubur, sedang sampah plastik dan kertas biarkan pera pemulung menjadikannya sebagai rejeki. Hanya itu saja? Tentu saja belum lengkap. Kita pun segera menyumbangkan barang kita yang bukan sampah pada mereka di sekitar TPA, sudah terlalu lama kita menghargai mereka dengan sampah saatnya sekarang kita menghargai mereka secara manusiawi.

Sesederhana itu sajakah? Tidak juga. Kita juga harus membereskan pikiran dan kebiasaan kita yang telah menjadi sampah. Maka, kita pun harus sudah pandai dan rajin memilah-milah pemikiran, teori, janji dan kebijakan pemerintah, ayat-ayat dakwah, dan sejenisnya lalu mau menempatkan pada tempatnya yang layak. Setelah itu, kita pun harus mampu merecycle pola pikir itu agar dapat menyuburkan bumi kesadaran, atau paling tidak agar dapat membahagiakan mereka yang benar-benar membutuhkannya. Tanpa perubahan pola pikir, tindakan praksis hanya akan berjalan sementara. Setelah kita terjebak pada rutinitas, kita akan kembali menjadi manusia (sampah) penghasil sampah.

Tahun ini, kita memang sedang mengalami pembukaan banyak hijab (selubung) tindakan ketaksadaran yang sudah menumpuk bertahun-tahun. Mulai dari alam yang retak, pemerintah yang kalap, perjudian yang ternyata mengurat nadi, sampai sampah pun ikut serta dalam pengelupasan selubung ketaksadaran kita.

Kalau hendak berbahagia, kinilah saat yang tepat untuk berbahagia. Rasulullah Muhammad membutuhkan waktu yang lama dan cara yang cukup berat, menyepi (tahannuts) dan merenung (qunut) di gua hira, untuk bisa menyingkap selubung kejahiliahan masyarakatnya. Sementara kita, begitu saja, dibukakan selubungnya secara jelas: Kita benar-benar Manusia Sampah!

Read More..
 
hanya debu . . . © 2008. Design by Pocket