..... Seorang lelaki dari sebuah pulau kecil, tanpa sungai, pergi berlayar ke pulau besar --pinggiran sebuah benua. Tak jelas niatnya, tak ada yang mencatatnya, juga tak ada buku harian. Namun konon, ia pergi berulangkali karena kagum pada pergerakan tepian sungai besar. Kadang pasang dan menumpas semua yang berdiri, hancur berantakan. Setelah itu air menyurut, menyisakan lumpur yang luar biasa subur. Di sisa rob, air pasang, itu ada kesuburan: kehidupan dan harapan suka cita. Semuanya tampak alamiah, tak ada campur tangan siapapun, dewa atau apapun tak terlihat usahanya di sana.
Tumpas dan tumbuh ditentukan oleh gerak air, lelaki itu bergumam. Benarkah? pikiran lain menderu mengikuti pikiran pertama. Kenapa di pulauku yang kecil tak pernah menyadari bahwa airlah sumber kehidupan, juga kematian?
Oh ya, di pulauku ada dongeng yang begitu dipercaya bahwa di puncak gunung yang menjulang, ada penguasa tak terlihat. Mereka, para penguasa itu, mengatur segala sesuatu. Kapan air hujan turun disebabkan oleh kuasa mereka, atau kemarahan mereka. Bagaimana perang tercipta, bahkan kenapa cinta jadi terbit pun ditentukan oleh hasrat mereka. Semua aspek kehidupan manusia diatur oleh mereka. Dulu ia sempat bertanya, bagaimana mungkin seluruh aspek kehidupan diatur oleh sosok seperti itu? Bapaknya menjawab, sangat mungkin jika mereka berjumlah banyak: satu sosok mengurus satu bagian kehidupan manusia; lalu satu orang yang sangat ditakuti di antara mereka menjadi penguasa, pengelola, dan pengendali. Simplenya, kehidupan ini, juga embun yang jatuh secara cemerlang, ditentukan oleh mereka.
Tapi di mana rupa kuasa mereka di tepian sungai besar ini? Lelaki ini kembali bertanya. Kepalanya memang sudah disesaki pertanyaan, entah kenapa --mungkin sudah bakat, atau memang karena dia sudah tak punya pekerjaan selain bertanya. Lelaki itu pulang lagi ke pulau kecilnya dan menemukan tanah kering menjadi subur setelah hujan turun. Di sini pun air menentukan kehidupan, dewa-dewa --sosok yang diceritakan orang tuanya-- tak pernah terlihat.
Lelaki itu mendadak gelisah. Ia menemukan rahasia terlarang, ia menemukan suatu gugatan yang akan membuat keyakinan lama akan guncang. Sudah lama, ia memang dirasuki pertanyaan tak biasa. Simpel tapi tak gampang dijawab. Apa asal muasal segala sesuatu, apakah arkhe
? Dewa-dewalah asal muasal segala sesuatu, itu sudah mutlak, begitu jawab para tetua di kampungnya.
Lelaki itu lalu bergumam, asal muasal segala sesuatu adalah air. Dan ia bernama Thales.
Kawanku, mari menari bersama Thales.
Ia lelaki dengan jawaban sederhana: air, namun berhasil merubah peradaban manusia. Pertanyaannya tentang arkhe membuat semua orang merumuskan ulang apa yang semula diyakininya sebagai benar. Keisengannya untuk mengaitkan jawaban dengan kenyataan, membuat keyakinan lama menjadi guncang.
Lelaki ini berani mengemas pertanyaan yang tak biasa: tentang SEBAB; sementara semua orang sibuk menghitung AKIBAT. Ia ingat benar ketika lautan mengamuk dengan badai, semua orang di pulau kecilnya ketakutan dan menyebarkan kabar bahwa, "Badai ini akibat dari kemarahan Dewa Laut, ia lapar dan meminta makanan!". Dewa rupanya sejenis anak kecil yang bila lapar ia tak bisa memenuhi kebutuhannya sendiri, lalu mengamuk adalah cara agar manusia memberikan kebutuhannya.
Di tanah lain, di India, pada abad yang kira-kira sama [maaf saya belum memeriksa akurasinya] seorang lelaki lain pun mengajukan pertanyaan yang sama, "Kenapa ada derita dalam hidup manusia?" Lelaki ini pun mengajukan pertanyaan tentang SEBAB, karena baginya pertanyaan tentang AKIBAT akan membuat kita terjebak pada kesusahan dan bukannya penyelesaian masalah. Lelaki India ini bernama Budha [yang terbangun saat yang lain tertidur lelap oleh AKIBAT], yang mengajak semua manusia untuk menonton "keinginan dalam diri" seraya membiarkan keinginan itu kelelahan dan berhenti bergerak.
Ya, bagi lelaki Budha ini, sebab dari semua kesengsaraan adalah KEINGINAN.
Keinginan selalu muncul dalam diri, ia seperti anak kecil yang ingin diperhatikan. Pikiran adalah arena pertunjukan bagi anak kecil keinginan. Ia merengek, marah-marah, atau merayu sampai kita menyimpulkan untuk merasa kasihan seraya memenuhi keinginannya. Sesekali tonton sajalah si anak kecil keinginan itu, biarkan ia merengek, menangis, atau merayu-rayu. Lihatlah keseluruhan dari pertunjukkanya, jangan terlalu cepat merasa kasihan padanya. Diamlah dan jadilah penonton dari geraknya, kelak ia akan berhenti sendiri tanpa harus memberikan apa-apa kepadanya.
Dua lelaki ini begitu luar biasa, bukan karena jawabannya namun karena pertanyaannya. Rupanya memang begitulah rahasia hidup, bukan pada jawaban yang dapat kita berikan namun pada pertanyaan "tak biasa" yang dapat kita ajukan.
Tetapi kita sudah lama tak bisa bertanya. Kita tak memproduksinya lagi, bahkan tak pernah mengharapkannya muncul dalam kehidupan sehari-hari. Pada anak kecil yang banyak bertanya, kita sering menghardik dan merasa jengkel. Akhirnya hidup dipenuhi jawaban-jawaban, tips-tips, mantra-mantra, dan plasebo.
Hai, apakah ada jawaban tanpa pertanyaan?
Seharusnya memang tidak ada jawaban seperti itu, seharusnya jawaban terbit dari pertanyaan yang diajukan seperti terbitnya matahari ketika malam telah selesai.
Altarra
7 tahun yang lalu
0 komentar:
Posting Komentar